Monday, October 8, 2012

"L"

Entah kenapa untuk kali ini terpikir untuk bercerita tentang si “L”. Siapakah dia? 
Jangan pernah terpikir bahwa ini adalah inisial nama seseorang kalau pun ada. Melainkan tentang sebuah huruf L yang akhirnya menjadi identitas diri saya. Identitas saat mengetikkan pesan singkat untuk dikirim kepada sahabat-sahabat saya.

Kurang lebih ada beberapa kronologis ketika akhirnya harus bercerita tentang si “L”.
Diantaranya dari pertanyaan ketika saya mengirim pesan singkat dalam sebuah diskusi sms,. Seperti

A: Knp ‘L’nya Id huruf capital smw?
Me: Hm…
Atau
Ketika akhirnya mencoba menyembunyikan identitas diri dengan mengetik huruf L secara benar, tetap muncul pertanyaan
A: Kok tumben ‘L’-nya ga gede, hhe
Me: --? Untuk menyembunyikan identitas
A: Wah anda berhasiL
Ya, mungkin hal ini telah menjadi kebiasaan saya ketika harus mengetik pesan singkat untuk dikirim. Bahkan status atau komen di socmed pun tetap dengan karakteristik ini. Hal yang saat ini sedang berusaha dirubah dengan harapan tidak dikenal langsung oleh orang lain.

#Hikmah..
“Dan terkadang diri sendiri kok merasa *l@y jg ya…”, ungkap salah seorang teman. 

Posted on Monday, October 08, 2012 by Akhdan Mumtaz

5 comments

Tuesday, September 25, 2012

1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.

Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan. 

Kebohongan juga bisa terjadi pada saat munculnya momentum yang memberikan peluang keuntungan besar melalui kebohongan. Yang jika ia jujur, menurut pertimbangannya, peluang itu akan lewat begitu saja. Ingatlah, bahwa tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik.

2. Tak memenuhi janji 
Berhati-hatilah jika Anda tidak memenuhi janji untuk menjalankan kewajiban dakwah yang telah Anda sepakati. Atau Anda mulai “toleran” dengan keterlambatan menghadiri forum-forum dakwah pekanan dan sebagainya. Kita patut waspada bahwa itu merupakan ingkar janji yang termasuk tanda-tanda kemunafikan, di mana saat itu terjadi degradasi ruhiyah dan keimanan.

“Ada tiga tanda kemunafikan,” sabda Rasulullah dalam riwayat Al Bukhari, “yaitu bila bicara ia dusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila diberi amanah ia berkhianat.”

3. Mengkhianati amanah
Tiga hal pertama, termasuk mengkhianati amanah ini juga merupakan tanda kemunafikan seperti disebutkan dalam terjemah hadits di atas. Sekecil apapun amanah yang diembankan kepada Anda, termasuk amanah kepanitiaan, amanah di wajihah, amanah di struktur dakwah; pada saat Anda menyia-nyiakannya, tidak mau menunaikannya, itu merupakan indikasi degradasi ruhiyah. Perlu sebuah introspeksi mengapa kita tak mau menunaikan amanah yang sudah kita terima; apakah kita menerima amanah karena Allah, atau karena mengincar tujuan duniawi? Jika karena Allah, bangkitlah! Jangan biarkan degradasi ruhiyah berkelanjutan dan menggerogoti keimanan.

4. Takut berjuang dan berdakwah
Ini juga tanda degradasi ruhiyah. Jika Anda tak lagi berani bergerak, berharakah, berjuang mendakwahkan Islam; ketahuilah bahwa saat itu sedang terjadi degradasi ruhiyah. Kembalilah kepada keyakinan yang benar bahwa rezeki ditentukan Allah dan masa depan dalam genggaman Allah. 

Mengapa takut lingkungan membenci Anda jika Anda sedang bergerak meraih ridha Allah dan cinta-Nya? Perusahaan mungkin bisa memecat Anda karena aktif berdakwah, tetapi ia takkan melakukannya selama Anda tetap profesional dalam bekerja. Lebih dari itu, tak seorang pun bisa menghalangi Anda dari rezeki yang lebih besar yang sudah Allah siapkan.

“Barangsiapa yang tidak berjihad dan tidak meniatkan dalam hatinya untuk melakukannya, ia membawa satu cabang kemunafikan pada kematiannya.” (HR. Muslim)

5. Su’udhan (Buruk Sangka)
Di saat Anda berprasangka buruk terhadap sesama aktifis dakwah yang berubah menjadi kaya, khawatirlah bahwa degradasi ruhiyah sedang melanda. Aktifis dakwah yang menjadi kaya setelah mendapatkan jabatan publik memang menimbulkan godaan untuk berburuk sangka. Tapi itulah cara syetan menyerang, padahal kita tak pernah tahu bahwa pada saat yang sama usaha atau bisnis aktifis dakwah itu berhasil setelah bertahun-tahun sebelumnya ia rintis dan ia kembangkan.

Kadang buruk sangka juga menjadikan qiyadah dakwah sebagai sasarannya. Bahkan pada kisah haditsul ifki kita bisa mengambil ibrah betapa pemimpin terbaik seperti Rasulullah pun, keluarganya pernah menjadi sasaran buruk sangka sebagian orang. 

“Hindarilah oleh kalian prasangka,” sabda Rasulullah dalam riwayat Muslim, “karena itu seburuk-buruknya perkataan.”

6. Ghibah
Tanda degradasi ruhiyah berikutnya adalah ghibah. Yakni ketika seorang aktifis dakwah membincangkan hal-hal yang tak disukai seadainya didengar oleh orang yang dibincangkan. Ghibah juga menjadi tanda memudarnya ukhuwah sehingga ketika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan aktifis dakwah, yang bersangkutan tidak diingatkan dan dikoreksi, malah aibnya disebarkan.

“Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al Hujurat : 12)

7. Hasad (dengki)
Hasad kepada sesama aktifis dakwah umumnya sulit ditemui pada fase awal atau perintisan dakwah. Di masa-masa sulit seperti itu, ketika semua aktifis dakwah berjuang “mati-matian” dalam kesulitan, hasad adalah penyakit hati yang sangat langka.

Namun, seiring dengan kemajuan dakwah, terbukanya kesempatan, dan teraksesnya kekuasaan, hasad bisa menjadi ancaman. Nah, aktifis dakwah yang tidak suka dengan kemajuan saudaranya, kesuksesannya, jabatannya, kekuasaannya, lalu berupaya menghilangkan nikmat itu; itulah hasad yang menjadi tanda degradasi ruhiyah. Bahkan saat ketidaksukaan muncul saja, hanya karena alasan dunia –mengapa dia dan bukan saya- itu saja sudah sangat mengkhawatirkan bahwa keruntuhan ruhiyah kita sedang berjalan.

8. Sering lalai dan mencari-cari alasan
Lalai terhadap komitmen amal ibadah yaumiyahnya, lalai terhadap amanahnya, lalai syura dakwahnya, lalai agenda pekanannya, lalu berupaya mencari alasan pembenar agar bisa disebut udzur adalah bagian dari tanda degradasi ruhiyah. Demikian pula saat aktifis dakwah mencari-cari celah atau menabrak hal-hal makruh dan syubhat sehingga akhirnya terjerembab dalam dosa dan pelanggaran.

“Seorang hamba takkan mencapai derajat ketaqwaan, sehingga ia meninggalkan perkara mubah baginya karena khawatir terjerumus masalah yang mengandung dosa.” (HR. Tirmidzi)

9. Suka popularitas, tak semangat dalam amal rahasia
Di saat mihwar dakwah telah sampai pada mihwar muasasi, gerbang amal amah terbuka gegap gempita. Banyak peluang popularitas di sana, banyak kemasyhuran menanti pelakunya. Jika pada saat seperti ini agenda dakwah khas dinomorduakan, tak ada gairah dan semangat menempuhnya, ketahuilah bahwa itu bagian dari riya’ yang menunjukkan degradasi ruhiyah kita.

10. Menjauhi syura
Jika Anda tak lagi menyukai syura, ingin menghasilkan keputusan dakwah sendiri, ingin mengambil kebijakan sendiri, sangat boleh jadi saat itu ruhiyah sedang melemah. Sebab ia hanya bermuara pada dua hal; pertama, menganggap orang lain dan jamaah dakwah tidak lebih baik dan lebih pintar dari Anda. Artinya ujub dan takabur tengah menjangkiti. Kedua, timbul keinginan untuk “berkuasa” diantaranya dengan bebas menentukan segalanya, termasuk menentukan arah dakwah demi kepentingan pribadi.

Syura adalah prinsip dalam amal jamai dan harus selalu ditegakkan dalam semua marhalah yang dilalui. “..sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura diantara mereka...” (QS. Asy Syura : 38). [AM09]


Yk.25.9.2012
Sebuah renung ditengah aktivitas kita


Idzhkir al-Mu'adz





Posted on Tuesday, September 25, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Friday, September 21, 2012

"Janganlah terlalu lemah atas setiap peristiwa yang antum jalani.
Baru beberapa tugas, baru beberapa amanah, baru beberapa kepusingan.
Ada hal yang lebih
yang akan ada didepan antum.
Lebih memusingkan dari apa yang sekarang dijalani
Lebih melelahkan dari apa yang antum rasakan sekarang
Lebih menguras pengorbanan 

Kampus dengan tugas-tugasnya, amanah-amanahnya hanyalah sesuatu yang kecil,
Fokuslah pada hal yang lebih besar didepan
Semakin kuat, semakin matang, dan semakin siap.
Itulah karakter diri yang harus antum bangun"

Nasehat dengan beberapa gubahan dari beliau, musyrif kami di pondok ini pada malam ini.
Sebuah momen dimana kami merasa sangat begitu dekat dengan beliau malam ini
Rabu, 19 September 2012
Ba'da Kajian Ushul Fiqh


Idzkhir al-Mu'adz
 



Posted on Friday, September 21, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Friday, August 24, 2012

Part 3 bisa jadi menjadi episode akhir Ramadhan di Yogyakarta. Wallahu a’lam, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Lebih tepatnya Ramadhan di Magelang. Kok bisa? Karena Ramadhan pada tahun 2012 ini saya jalani bersama warga Tersan Gede, Salam, Magelang. Dalam sebuah skenario dari  Allah swt. KKN, Kuliah Kerja Nyata UGM 2012.

Mungkin sedikit bercerita tentang bagaimana awalnya bisa menjatuhkan pilihan ke Tersan Gede, Magelang. Kok saya tidak mencari lokasi yang bisa jadi dikampung halaman, Pariaman ataupun Padang. Pilihan lokasi ini jatuh dikarenakan sedikit tidak memungkinkan bagi saya untuk jauh-jauh dari UGM. Maksudnya masih ada beberapa tanggungjawab yang tidak serta merta dapat saya tinggalkan selama KKN. Maka pilihan yang paling mungkin adalah lokasi yang bisa ditempuh dengan jarak yang sesuai dari UGM.

Tersan Gede pun merupakan desa yang memang terus difollow up-i pemberdayaan masyarakatnya. Dan ketika saya memutuskan berada di lokasi ini, kami adalah Generasi V dari KKN UGM di desa ini. Sebuah beban yang cukup besar karena seringnya desa ini menjadi lokasi KKN. Namun akan ada banyak cerita dari desa ini. Cerita yang kami para generasi KKN UGM bingkai dalam cita-cita Menuju Desa Tersan Gede Mandiri.

Ramadhan di Tersan Gede kami jalani dengan amanah menjalankan program KKN. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana perjuangan teman-teman KKN Unit 196 dengan tetap menjalani ibadah puasa. Banyak program yang dirancang harus berbenturan ketika mempertimbangkan waktu yang sesuai bagi masyarakat Tersan Gede ditengah bulan Ramadhan ini. Karena bagi masyarakat waktu pagi adalah waktu untuk ke sawah, waktu siang adalah jeda untuk istirahat, waktu sore adalah waktu untuk memasak bagi ibu-ibu dan kembali ke sawah bagi bapak-bapak, dan waktu malam adalah waktu untuk ibadah tarwih.

Nah Lho? Lalu bagaimana kami harus bisa menjadikan waktu ini tidak menjadi kendala program. Inilah yang menjadi PR besar kami sebagai mahasiswa ketika berada dimasyarakat. Salah satu yang menjadi kuncinya adalah bagaimana kami bisa membangun kedekatan dengan masyarakat. Sehingga ketika program ini harus dijalankan bisa dianggap menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Tersan Gede. Meskipun beberapa momen memang akhirnya tidak bisa maksimal diikuti oleh masyarakat Tersan Gede sebagaimana yang kami harapkan. Tapi itulah peran dan resiko kami menjalankan program dibulan Ramadhan. Dan Alhamdulillah kami dan masyarakat sama-sama mafhum kondisi masing-masing. Bahkan terkadang ada rasa sedih juga ketika secara langsung masyarakat menyampaikan permohonan maafnya secara sungguh-sungguh kepada kami. Sedih karena kami saja sering tidak peduli ketika memang ada suatu agenda berbenturan dikampus. Dan tanpa rasa sesal sedikit pun tidak memenuhi undangan. Satu pembelajaran bersama masyarakat Tersan Gede.

Ramadhan di Tersan Gede memang berbeda dengan Ramadhan di Yogyakarta, apalagi Ramadhan dilingkungan kampus. Tidak ada spanduk, baliho, rambu-rambu yang menyatakan bahwa Ramadhan itu telah datang. Meskipun beberapa dari bentuk ini menjadi program KKN kami J. Bahkan pada awalnya saya merasa seolah-olah Ramadhan tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat disini. Akan tetapi, pandangan ini berubah ketika menjalani Ramadhan. Memang tidak ada spanduk, baliho, rambu-rambu Ramadhan akan tetapi Masjid dan Mushola penuh sesak hingga separuh Ramadhan berjalan. Nyaris setiap mushola memiliki agenda untuk bisa mengumpulkan warga. Dari ta’jil, sahur, tadarusan, dll. Untuk daerah kampus mungkin ada hal yang sama. Akan tetapi, diperuntukkan bagi mereka yang ingin berbuka puasa di Masjid/Mushola. Bedanya di Tersan Gede adalah ta’jil diperuntukan dan menjadi undangan untuk seluruh masyarakat masing-masing dusun. Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya Masjid/Mushola ketika semua anggota masyarakat hadir disana.

Oya, sedikit penjelasan. Unit KKN kami berada di satu desa bernama Tersan Gede. Unit ini dibagi atas 4 sub unit yang berlokasi di 4 dusun. Dusun-dusunnya adalah Medangan, Nabin, Bobosan dan Puguhan.

          Dan salah satu pembelajaran terbesar bagi kami mahasiswa KKN selama Ramadhan disini adalah menjadi penceramah-penceramah tarwih keliling dusun. Memang beberapa dari kami sudah biasa mengisi materi, pelatihan dan sejenisnya dikampus. Akan tetapi, desa sungguh sangat berbeda dengan kampus. Banyak materi-materi yang tepat dikampus tidak sesuai dengan dimasyarakat. Waktunya pun sangat berbeda, ada yang sangat singkat dan ada yang cukup panjang. Inilah saat ilmu dan kebutuhan menjadi ujian. Ketika kita harus memberikan ceramah dengan persiapan hanya 30 menit bahkan 5 menit sebelum waktunya karena tidak ada orang lain. Ketika tanpa sengaja singgah dan duduk namun diminta menyampaikan materi. Ya, itulah KKN.. Bahwa ternyata masyarakat merupakan hamba-hamba Allah yang haus akan ilmu agama. Dan kita sebagai mahasiswa yang secara harfiah memiliki pendidikan tinggi diberi harapan besar untuk itu. Maka masihkah kita akan mempertanyakan dan memisahkan pemahaman ilmu kuliah dan ilmu agama kita. Ya, kita sering bergumam bahwa pemuda adalah harapan besar bangsa. Dan ketika bersama masyarakat (dalam KKN) kita mendapatkan pembelajaran itu.
Mahasiswa bersiaplah untuk menjadi harapan bangsa.

Yk.24.8.2012
Dalam suasana Idul Fitri dan
Kenangan bersama masyarakat Tersan Gede


Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Friday, August 24, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Tuesday, July 17, 2012

Merencanakan bagaimana hidup kita merupakan hal yang sangat sering kita dengar. Namun merencanakan bagaimana mati kita menjadi sangat asing ditelinga kita. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika Mbah Sis, ibu pondokan KKN kami bercerita tentang bagaimana makamnya nanti.
Cerita ini dimulai ketika saya bertanya tentang aktivitas si Mbah hari itu yakni nyekar ke makam.
I         : Pripun Mbah? Tadi jadi nyekar ke makam?
M       : Jadi Wan*. Sekalian Mbah melihat makam si Mbah nanti.
I         : #Kaget… (berpikir bagaimana mungkin si Mbah sudah punya makam sendiri.
M       : Mahal cuman untuk 1 lobang. Lubang e 300 ribu, bata ne 700 ribu. Total e yo jadi 1 juta an
I         : Ooo.. ngeten mbah
M       : Ya. Kalo si mbah “dipanggil” tanahnya jadi cuman digali dikit.
I         : (diam tidak bisa memberi tanggapan)
M       : Jadi ne si mbah sendiri disana. Makanya si mbah sekarang berusaha mencari jalan ke syurgo
I         : (tidak bisa berkata apa-apa lagi)
          Tidak ada kata yang dapat saya ungkapkan selain Maha Suci & mulia Allah dalam memberi pelajaran kepada hamba-Nya. Karena kita sangatlah sering untuk mengungkapkan “Bekerjalah kamu seolah-olah dunia tidak pernah berakhir, dan beramallah kamu seolah-olah engkau akan mati esok”. Dan sayangnya kita hanya sering mengingat ungkapan awal dari pepatah ini. Sedangkan ungkapan keduanya mungkin sering terlupa bahkan kita lupakan.
Pada akhirnya, rencana si Mbah yang sudah siap segalanya menjadi renung bagi saya pada hari kesekian dari KKN ini. Bahwa kita pun meskipun masih muda sudah saatnya juga untuk juga merencanakan mati. Karena hidup adalah perjalanan untuk kembali kepadanya.
Glosary :
*Wan : panggilan khusus si Mbah bagi saya selama KKN. Katanya makna Idriwal itu satu. Sehingga dipanggil Iwan. I untuk symbol 1 dalam bahasa Jepang sedangkan wan (maksudnya one) adalah 1 dalam bahasa Belanda. 

Posted on Tuesday, July 17, 2012 by Akhdan Mumtaz

2 comments

Thursday, July 5, 2012


Angka 2 yakni tahun kedua Ramadhan di Yogyakarta. Saya dapat menyatakan bahwa tahun ini merupakan tahun “pengglembengan” terbaik dalam sejarah perjalanan hidup, ya tahun 2010. Tidak lain karena PPSMB (Ospek-read) 2010 dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dan bertepatan saat itu ikut terlibat dikepanitian PPSMB 2010 sebagai Pemandu. Oya, PPSMB 2010 saat itu bernama “Patriot”, cukup panjang kalo menuliskan akronimnya. Dan dikemudian hari pun ini merupakan kesempatan pertama dan terakhir saya sebagai Pemandu PPSMB J.
Sepertinya makna pengglembengan ini tidak akan bisa dipahami apabila saya tidak mendeskripsikan makna menjadi Pemandu PPSMB. Ya, Pemandu PPSMB merupakan garda terdepan dari kepanitiaan karena dialah yang berinteraksi langsung dengan adik-adik Mahasiswa baru. Pemandu PPSMB merupakan orang yang akan berperan sebagai kakak, orang tua, dan keluarga terdekat para mahasiswa baru. Peran minimal selama PPSMB dan idealnya selama adik-adik mahasiswa baru menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik UGM. Dan memang, orang yang akan siaga “siap antar jaga” untuk mendampingi adik-adiknya selama PPSMB adalah Pemandu.
Masih ingat dengan pertanyaan-pertanyaan selama PPSMB. “Mas, tugas ini gimana y kriterianya? Mbak, si A tidak bisa jalan lagi karena sakit. Hingga Mas Mbak, Si B kecelakaan!”, adalah hal-hal yang akan dijalani selama mendampingi adik-adik mahasiswa baru. Dan peran ini nyaris harus didampingi siang malam selama PPSMB terhitung dilaksanakan. Peran pemandu tidak hanya selesai disitu. Karena pemandu juga harus mondar-mondir untuk sekedar koordinasi dengan Tim Acara. Mondar-mondir karena mendapat titipan leaflet, publikasi, dll untuk dibagikan kepada adik-adik pandu. Juga mondar mandir hanya untuk mengambil presensi, cek tugas, dll. Deskripsi sederhananya ruwet dan campur aduk.
Ya, inilah yang dijalankan peran selama PPSMB Patriot 2010. Ditengah ibadah Ramadhan yang harus dimaksimalkan peluang amalan-amalan terbaik. Ditengah panas teriknya upacara dan acara PPSMB. Kami sebagai pemandu saat itu harus menjalankan peran tersebut. Ungkapan yang tepat untuk deskripsinya adalah kecapekan yang luar biasa. Namun, anehnya kami (mayoritas Pemandu & panitia) tetap berusaha menjaga ibadah terbaik kami. Ketika harus kumpul jam 5 pagi, setelah Sahur, sholat Subuh, kami masih menyempatkan untuk tilawah dipojok-pojok selasar KPFT. Sekedar mencuri-curi waktu luang yang ada sebelum acara dimulai. Setelah seharian terisi oleh agenda PPSMB, sorenya panitia pun harus berkoordinasi. Sekedar briefing, evaluasi dan persiapan hari esok. Pemandu, tidak selesai disitu karena harus lanjut untuk mendampingi adik-adiknya mengerjakan tugas hingga malam. Dan malamnya tetap berusaha untuk bisa Tarwih. Hal yang bertahan selama PPSMB berlangsung.
Bagi saya, menjalani peran ini seperti tidak terpikir mampu dan kuat sebelumnya. Bahkan bisa melebihi batas yang biasa dilakukan. Namun, ternyata memang niat dan tekad yang kuat itu bisa mengalahkan segala keterbatasan itu. Niat mampu meloncati apa yang sering kita jadikan pembatas diri. Bahwa Ramadhan tidak mungkin untuk beraktivitas secara ekstra dan optimal. Sehingga sebuah makna dari Ramadhan ditahun kedua di Jogja ini adalah “Ramadhan adalah bulan dimana aktivitas terbaik kita menjadi terbatas. Melainkan justru menjadi diatas batas”.

*Oya, ada buah yang manis dapat saya (kami) petik dari perjuangan tak kenal lelah selama menjadi Pemandu PPSMB Patriot 2010, yakni Kelompok Pandu kami (saya dan partner Pemandu) menjadi Kelompok Terbaik PPSMB saat itu. Akhir yang manis untuk perjuangan yang juga manis J.

Yk.5.7.2012
Selesaikan di sudut kamar pondok Insani


Idzkhir al-Mu’adz




Posted on Thursday, July 05, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Wednesday, July 4, 2012



Tak terasa perjalanan waktu itu begitu cepat untuk dilalui. Setiap pergantian hari-hari, semester ke semester selanjutnya, hingga dari tahun ke tahun selanjutnya. Setidaknya itulah yang terasa saat ini. Ternyata tahun ini adalah Ramadhan keempat yang akan insya Allah saya jalani di Yogyakarta. Aamiin.. Semoga Allah berkenan memanjangkan umur untuk bisa dipertemukan dengan Ramadhan 1433 H tahun ini.
Dan tahun keempat ini menjadi sebuah perenungan tersendiri, sudah sejauh apakah kita memaknai pergantian Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Jangankan 4 tahun Ramadhan di Jogja, bisa jadi sepanjang usia yang telah Allah anugrahkan belum bisa saya maknai untuk Ramadhan yang terbaik. Namun angka 4 untuk Ramadhan 1433 H setidaknya memiliki beberapa makna tersendiri bagi saya. Hal inilah yang coba saya ingat.
Dimulai dari angka 1 yakni tahun pertama di Jogja. Tidak ada kata yang tepat selain pernyataan bahwa 2009 merupakan tahun pertama memaknai Ramadhan untuk tidak bersama orang tua. Mengapa? Karena inilah tahun pertama pilihan melanjutkan pendidikan keluar daerah asal (Merantau-read) harus saya jalani. Dan tidak seperti rekan-rekan mahasiswa lain yang memiliki kesempatan untuk berangkat pulang, bagi Kami (orang Sumatera, Kalimantan, dan perantau lain) perlu berpikir ulang untuk kembali pulang. Karena jadwal pulang-pergi sejak Registrasi Mahasiswa Baru 2009 Universitas Gadjah Mada, Test TOEFL hingga Penyambutan Mahasiswa Baru sudah cukup menyita perhatian dan biaya kami. Maka keputusan untuk tidak Ramadhan bersama orang tua ditahun pertama adalah keputusan terbaik insya Allah saat itu.
Akan tetapi, ada sebuah makna tersendiri dari Ramadhan tahun pertama ini. Yakni hari pertama Ramadhan persis sehari setelah pelaksanaan Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (Ospek-read) kala itu. PPSMB Fakultas Teknik, saat itu bernama Riset “Orientasi Masa Depan Teknik” merupakan salah satu momen berkesan saat menjadi mahasiswa baru. Lepas dari apa yang pertama kali tergambar tentang ospek yang penuh perploncoan, pemaksaan, kekerasan fisik, dll. 
Makna yang diperoleh adalah menjadi mahasiswa baru berarti bersiap untuk tanggungjawab baru sebagai bangsa Indonesia. Dan kesan ini terbangun juga bersama kami para mahasiswa baru ketika diakhir PPSMB kita diingatkan. Bahwa persis berakhirnya PPSMB bagi umat Muslim telah datang menanti sebuah bulan mulia, Ramadhan. Dan tausiyah ba’da Dzuhur saat PPSMB kala itu mengingatkan bahwa lepas dari PPSMB seharusnya menjadi pematangan tersendiri untuk menjadi yang terbaik di bulan Ramadhan. Seingat saya tausiyah itu disampaikan oleh oleh Ketua BEM KMFT kala itu, Mas Dede Miftahul Anwar. Kesan yang akan terus diingat ketika menjalani Ramadhan. Dan itulah makna pertama ditahun pertama Ramadhan di Jogja. “Meski tidak bersama orang tua, Jadikanlah Ramadhan itu Ramadhan Terbaikmu”. To be continued…..


Yk.4.7.2012
Di sudut kamar pondok Insani,

Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Wednesday, July 04, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments