Friday, August 24, 2012

Part 3 bisa jadi menjadi episode akhir Ramadhan di Yogyakarta. Wallahu a’lam, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Lebih tepatnya Ramadhan di Magelang. Kok bisa? Karena Ramadhan pada tahun 2012 ini saya jalani bersama warga Tersan Gede, Salam, Magelang. Dalam sebuah skenario dari  Allah swt. KKN, Kuliah Kerja Nyata UGM 2012.

Mungkin sedikit bercerita tentang bagaimana awalnya bisa menjatuhkan pilihan ke Tersan Gede, Magelang. Kok saya tidak mencari lokasi yang bisa jadi dikampung halaman, Pariaman ataupun Padang. Pilihan lokasi ini jatuh dikarenakan sedikit tidak memungkinkan bagi saya untuk jauh-jauh dari UGM. Maksudnya masih ada beberapa tanggungjawab yang tidak serta merta dapat saya tinggalkan selama KKN. Maka pilihan yang paling mungkin adalah lokasi yang bisa ditempuh dengan jarak yang sesuai dari UGM.

Tersan Gede pun merupakan desa yang memang terus difollow up-i pemberdayaan masyarakatnya. Dan ketika saya memutuskan berada di lokasi ini, kami adalah Generasi V dari KKN UGM di desa ini. Sebuah beban yang cukup besar karena seringnya desa ini menjadi lokasi KKN. Namun akan ada banyak cerita dari desa ini. Cerita yang kami para generasi KKN UGM bingkai dalam cita-cita Menuju Desa Tersan Gede Mandiri.

Ramadhan di Tersan Gede kami jalani dengan amanah menjalankan program KKN. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana perjuangan teman-teman KKN Unit 196 dengan tetap menjalani ibadah puasa. Banyak program yang dirancang harus berbenturan ketika mempertimbangkan waktu yang sesuai bagi masyarakat Tersan Gede ditengah bulan Ramadhan ini. Karena bagi masyarakat waktu pagi adalah waktu untuk ke sawah, waktu siang adalah jeda untuk istirahat, waktu sore adalah waktu untuk memasak bagi ibu-ibu dan kembali ke sawah bagi bapak-bapak, dan waktu malam adalah waktu untuk ibadah tarwih.

Nah Lho? Lalu bagaimana kami harus bisa menjadikan waktu ini tidak menjadi kendala program. Inilah yang menjadi PR besar kami sebagai mahasiswa ketika berada dimasyarakat. Salah satu yang menjadi kuncinya adalah bagaimana kami bisa membangun kedekatan dengan masyarakat. Sehingga ketika program ini harus dijalankan bisa dianggap menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Tersan Gede. Meskipun beberapa momen memang akhirnya tidak bisa maksimal diikuti oleh masyarakat Tersan Gede sebagaimana yang kami harapkan. Tapi itulah peran dan resiko kami menjalankan program dibulan Ramadhan. Dan Alhamdulillah kami dan masyarakat sama-sama mafhum kondisi masing-masing. Bahkan terkadang ada rasa sedih juga ketika secara langsung masyarakat menyampaikan permohonan maafnya secara sungguh-sungguh kepada kami. Sedih karena kami saja sering tidak peduli ketika memang ada suatu agenda berbenturan dikampus. Dan tanpa rasa sesal sedikit pun tidak memenuhi undangan. Satu pembelajaran bersama masyarakat Tersan Gede.

Ramadhan di Tersan Gede memang berbeda dengan Ramadhan di Yogyakarta, apalagi Ramadhan dilingkungan kampus. Tidak ada spanduk, baliho, rambu-rambu yang menyatakan bahwa Ramadhan itu telah datang. Meskipun beberapa dari bentuk ini menjadi program KKN kami J. Bahkan pada awalnya saya merasa seolah-olah Ramadhan tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat disini. Akan tetapi, pandangan ini berubah ketika menjalani Ramadhan. Memang tidak ada spanduk, baliho, rambu-rambu Ramadhan akan tetapi Masjid dan Mushola penuh sesak hingga separuh Ramadhan berjalan. Nyaris setiap mushola memiliki agenda untuk bisa mengumpulkan warga. Dari ta’jil, sahur, tadarusan, dll. Untuk daerah kampus mungkin ada hal yang sama. Akan tetapi, diperuntukkan bagi mereka yang ingin berbuka puasa di Masjid/Mushola. Bedanya di Tersan Gede adalah ta’jil diperuntukan dan menjadi undangan untuk seluruh masyarakat masing-masing dusun. Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya Masjid/Mushola ketika semua anggota masyarakat hadir disana.

Oya, sedikit penjelasan. Unit KKN kami berada di satu desa bernama Tersan Gede. Unit ini dibagi atas 4 sub unit yang berlokasi di 4 dusun. Dusun-dusunnya adalah Medangan, Nabin, Bobosan dan Puguhan.

          Dan salah satu pembelajaran terbesar bagi kami mahasiswa KKN selama Ramadhan disini adalah menjadi penceramah-penceramah tarwih keliling dusun. Memang beberapa dari kami sudah biasa mengisi materi, pelatihan dan sejenisnya dikampus. Akan tetapi, desa sungguh sangat berbeda dengan kampus. Banyak materi-materi yang tepat dikampus tidak sesuai dengan dimasyarakat. Waktunya pun sangat berbeda, ada yang sangat singkat dan ada yang cukup panjang. Inilah saat ilmu dan kebutuhan menjadi ujian. Ketika kita harus memberikan ceramah dengan persiapan hanya 30 menit bahkan 5 menit sebelum waktunya karena tidak ada orang lain. Ketika tanpa sengaja singgah dan duduk namun diminta menyampaikan materi. Ya, itulah KKN.. Bahwa ternyata masyarakat merupakan hamba-hamba Allah yang haus akan ilmu agama. Dan kita sebagai mahasiswa yang secara harfiah memiliki pendidikan tinggi diberi harapan besar untuk itu. Maka masihkah kita akan mempertanyakan dan memisahkan pemahaman ilmu kuliah dan ilmu agama kita. Ya, kita sering bergumam bahwa pemuda adalah harapan besar bangsa. Dan ketika bersama masyarakat (dalam KKN) kita mendapatkan pembelajaran itu.
Mahasiswa bersiaplah untuk menjadi harapan bangsa.

Yk.24.8.2012
Dalam suasana Idul Fitri dan
Kenangan bersama masyarakat Tersan Gede


Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Friday, August 24, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Tuesday, July 17, 2012

Merencanakan bagaimana hidup kita merupakan hal yang sangat sering kita dengar. Namun merencanakan bagaimana mati kita menjadi sangat asing ditelinga kita. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika Mbah Sis, ibu pondokan KKN kami bercerita tentang bagaimana makamnya nanti.
Cerita ini dimulai ketika saya bertanya tentang aktivitas si Mbah hari itu yakni nyekar ke makam.
I         : Pripun Mbah? Tadi jadi nyekar ke makam?
M       : Jadi Wan*. Sekalian Mbah melihat makam si Mbah nanti.
I         : #Kaget… (berpikir bagaimana mungkin si Mbah sudah punya makam sendiri.
M       : Mahal cuman untuk 1 lobang. Lubang e 300 ribu, bata ne 700 ribu. Total e yo jadi 1 juta an
I         : Ooo.. ngeten mbah
M       : Ya. Kalo si mbah “dipanggil” tanahnya jadi cuman digali dikit.
I         : (diam tidak bisa memberi tanggapan)
M       : Jadi ne si mbah sendiri disana. Makanya si mbah sekarang berusaha mencari jalan ke syurgo
I         : (tidak bisa berkata apa-apa lagi)
          Tidak ada kata yang dapat saya ungkapkan selain Maha Suci & mulia Allah dalam memberi pelajaran kepada hamba-Nya. Karena kita sangatlah sering untuk mengungkapkan “Bekerjalah kamu seolah-olah dunia tidak pernah berakhir, dan beramallah kamu seolah-olah engkau akan mati esok”. Dan sayangnya kita hanya sering mengingat ungkapan awal dari pepatah ini. Sedangkan ungkapan keduanya mungkin sering terlupa bahkan kita lupakan.
Pada akhirnya, rencana si Mbah yang sudah siap segalanya menjadi renung bagi saya pada hari kesekian dari KKN ini. Bahwa kita pun meskipun masih muda sudah saatnya juga untuk juga merencanakan mati. Karena hidup adalah perjalanan untuk kembali kepadanya.
Glosary :
*Wan : panggilan khusus si Mbah bagi saya selama KKN. Katanya makna Idriwal itu satu. Sehingga dipanggil Iwan. I untuk symbol 1 dalam bahasa Jepang sedangkan wan (maksudnya one) adalah 1 dalam bahasa Belanda. 

Posted on Tuesday, July 17, 2012 by Akhdan Mumtaz

2 comments

Thursday, July 5, 2012


Angka 2 yakni tahun kedua Ramadhan di Yogyakarta. Saya dapat menyatakan bahwa tahun ini merupakan tahun “pengglembengan” terbaik dalam sejarah perjalanan hidup, ya tahun 2010. Tidak lain karena PPSMB (Ospek-read) 2010 dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dan bertepatan saat itu ikut terlibat dikepanitian PPSMB 2010 sebagai Pemandu. Oya, PPSMB 2010 saat itu bernama “Patriot”, cukup panjang kalo menuliskan akronimnya. Dan dikemudian hari pun ini merupakan kesempatan pertama dan terakhir saya sebagai Pemandu PPSMB J.
Sepertinya makna pengglembengan ini tidak akan bisa dipahami apabila saya tidak mendeskripsikan makna menjadi Pemandu PPSMB. Ya, Pemandu PPSMB merupakan garda terdepan dari kepanitiaan karena dialah yang berinteraksi langsung dengan adik-adik Mahasiswa baru. Pemandu PPSMB merupakan orang yang akan berperan sebagai kakak, orang tua, dan keluarga terdekat para mahasiswa baru. Peran minimal selama PPSMB dan idealnya selama adik-adik mahasiswa baru menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik UGM. Dan memang, orang yang akan siaga “siap antar jaga” untuk mendampingi adik-adiknya selama PPSMB adalah Pemandu.
Masih ingat dengan pertanyaan-pertanyaan selama PPSMB. “Mas, tugas ini gimana y kriterianya? Mbak, si A tidak bisa jalan lagi karena sakit. Hingga Mas Mbak, Si B kecelakaan!”, adalah hal-hal yang akan dijalani selama mendampingi adik-adik mahasiswa baru. Dan peran ini nyaris harus didampingi siang malam selama PPSMB terhitung dilaksanakan. Peran pemandu tidak hanya selesai disitu. Karena pemandu juga harus mondar-mondir untuk sekedar koordinasi dengan Tim Acara. Mondar-mondir karena mendapat titipan leaflet, publikasi, dll untuk dibagikan kepada adik-adik pandu. Juga mondar mandir hanya untuk mengambil presensi, cek tugas, dll. Deskripsi sederhananya ruwet dan campur aduk.
Ya, inilah yang dijalankan peran selama PPSMB Patriot 2010. Ditengah ibadah Ramadhan yang harus dimaksimalkan peluang amalan-amalan terbaik. Ditengah panas teriknya upacara dan acara PPSMB. Kami sebagai pemandu saat itu harus menjalankan peran tersebut. Ungkapan yang tepat untuk deskripsinya adalah kecapekan yang luar biasa. Namun, anehnya kami (mayoritas Pemandu & panitia) tetap berusaha menjaga ibadah terbaik kami. Ketika harus kumpul jam 5 pagi, setelah Sahur, sholat Subuh, kami masih menyempatkan untuk tilawah dipojok-pojok selasar KPFT. Sekedar mencuri-curi waktu luang yang ada sebelum acara dimulai. Setelah seharian terisi oleh agenda PPSMB, sorenya panitia pun harus berkoordinasi. Sekedar briefing, evaluasi dan persiapan hari esok. Pemandu, tidak selesai disitu karena harus lanjut untuk mendampingi adik-adiknya mengerjakan tugas hingga malam. Dan malamnya tetap berusaha untuk bisa Tarwih. Hal yang bertahan selama PPSMB berlangsung.
Bagi saya, menjalani peran ini seperti tidak terpikir mampu dan kuat sebelumnya. Bahkan bisa melebihi batas yang biasa dilakukan. Namun, ternyata memang niat dan tekad yang kuat itu bisa mengalahkan segala keterbatasan itu. Niat mampu meloncati apa yang sering kita jadikan pembatas diri. Bahwa Ramadhan tidak mungkin untuk beraktivitas secara ekstra dan optimal. Sehingga sebuah makna dari Ramadhan ditahun kedua di Jogja ini adalah “Ramadhan adalah bulan dimana aktivitas terbaik kita menjadi terbatas. Melainkan justru menjadi diatas batas”.

*Oya, ada buah yang manis dapat saya (kami) petik dari perjuangan tak kenal lelah selama menjadi Pemandu PPSMB Patriot 2010, yakni Kelompok Pandu kami (saya dan partner Pemandu) menjadi Kelompok Terbaik PPSMB saat itu. Akhir yang manis untuk perjuangan yang juga manis J.

Yk.5.7.2012
Selesaikan di sudut kamar pondok Insani


Idzkhir al-Mu’adz




Posted on Thursday, July 05, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Wednesday, July 4, 2012



Tak terasa perjalanan waktu itu begitu cepat untuk dilalui. Setiap pergantian hari-hari, semester ke semester selanjutnya, hingga dari tahun ke tahun selanjutnya. Setidaknya itulah yang terasa saat ini. Ternyata tahun ini adalah Ramadhan keempat yang akan insya Allah saya jalani di Yogyakarta. Aamiin.. Semoga Allah berkenan memanjangkan umur untuk bisa dipertemukan dengan Ramadhan 1433 H tahun ini.
Dan tahun keempat ini menjadi sebuah perenungan tersendiri, sudah sejauh apakah kita memaknai pergantian Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Jangankan 4 tahun Ramadhan di Jogja, bisa jadi sepanjang usia yang telah Allah anugrahkan belum bisa saya maknai untuk Ramadhan yang terbaik. Namun angka 4 untuk Ramadhan 1433 H setidaknya memiliki beberapa makna tersendiri bagi saya. Hal inilah yang coba saya ingat.
Dimulai dari angka 1 yakni tahun pertama di Jogja. Tidak ada kata yang tepat selain pernyataan bahwa 2009 merupakan tahun pertama memaknai Ramadhan untuk tidak bersama orang tua. Mengapa? Karena inilah tahun pertama pilihan melanjutkan pendidikan keluar daerah asal (Merantau-read) harus saya jalani. Dan tidak seperti rekan-rekan mahasiswa lain yang memiliki kesempatan untuk berangkat pulang, bagi Kami (orang Sumatera, Kalimantan, dan perantau lain) perlu berpikir ulang untuk kembali pulang. Karena jadwal pulang-pergi sejak Registrasi Mahasiswa Baru 2009 Universitas Gadjah Mada, Test TOEFL hingga Penyambutan Mahasiswa Baru sudah cukup menyita perhatian dan biaya kami. Maka keputusan untuk tidak Ramadhan bersama orang tua ditahun pertama adalah keputusan terbaik insya Allah saat itu.
Akan tetapi, ada sebuah makna tersendiri dari Ramadhan tahun pertama ini. Yakni hari pertama Ramadhan persis sehari setelah pelaksanaan Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (Ospek-read) kala itu. PPSMB Fakultas Teknik, saat itu bernama Riset “Orientasi Masa Depan Teknik” merupakan salah satu momen berkesan saat menjadi mahasiswa baru. Lepas dari apa yang pertama kali tergambar tentang ospek yang penuh perploncoan, pemaksaan, kekerasan fisik, dll. 
Makna yang diperoleh adalah menjadi mahasiswa baru berarti bersiap untuk tanggungjawab baru sebagai bangsa Indonesia. Dan kesan ini terbangun juga bersama kami para mahasiswa baru ketika diakhir PPSMB kita diingatkan. Bahwa persis berakhirnya PPSMB bagi umat Muslim telah datang menanti sebuah bulan mulia, Ramadhan. Dan tausiyah ba’da Dzuhur saat PPSMB kala itu mengingatkan bahwa lepas dari PPSMB seharusnya menjadi pematangan tersendiri untuk menjadi yang terbaik di bulan Ramadhan. Seingat saya tausiyah itu disampaikan oleh oleh Ketua BEM KMFT kala itu, Mas Dede Miftahul Anwar. Kesan yang akan terus diingat ketika menjalani Ramadhan. Dan itulah makna pertama ditahun pertama Ramadhan di Jogja. “Meski tidak bersama orang tua, Jadikanlah Ramadhan itu Ramadhan Terbaikmu”. To be continued…..


Yk.4.7.2012
Di sudut kamar pondok Insani,

Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Wednesday, July 04, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Thursday, June 28, 2012



Tanpa sengaja tulisan ini saya temukan disebuah postingan salah seorang dosen. Dan dalam hal ini saya sangat sependapat dengan apa yang tercantum ditulisan ini. Bahwa siapa bilang kuliah di Teknik tidak membuka peluang untuk meraih berbagai macam ilmu lain. Berikut kutipan dari M. Abduh Tuasikal.

Kegiatan kuliah terasa amat menyibukkan. Sibuk dengan berbagai tugas, harus buat presentasi, menyusun laporan praktikum dan lebih sibuk lagi jika sudah menginjak semester-semester akhir. Apakah mungkin kesibukan ini bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya, mungkin sekali. Segala kemudahan itu datang dari Allah. Maka bisa saja seorang engineer menjadi pakar fiqih. Bisa jadi pula seorang ekonom menjadi pakar hadits. Atau seorang ahli biologi menjadi hafizh Al Qur’an. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah.

Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu

Mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Cuma sebagian mahasiswa saja yang benar-benar menyia-nyiakan waktunya. Tidak setiap saat ia mesti mendapatkan tugas. Tidak setiap hari mesti kerjakan laporan praktikum. Mahasiswa yang tidak pintar membagi waktu saja yang selalu “sok sibuk”.

Sebagian mahasiswa masih bisa menyisihkan waktu untuk renang dengan shohib dekatnya. Ia masih sempat juga untuk fitness meskipun di kala laporan praktikum menumpuk. Ia juga masih sempat berpetualang menjelajah berbagai gunung meskipun minggu depan ada ujian mid. Ia masih bisa begadang semalam suntuk untuk menanti pertandingan Liga Champions meskipun katanya ada banyak tugas yang mesti diselesaikan. Sebagiannya pula bisa menyisihkan waktu untuk update status setiap jam di FB (Facebook), twitter dan semacamnya. Mau tidur, mau makan, mau renang, bahkan mau ke WC sekali pun bisa ada statusnya di jejaring sosial tadi. Namun soal ngaji (istilah untuk mendalami ilmu agama) bisa menjadi nomor sekian baginya. Padahal aneh kan, hal-hal tadi bisa ia lakukan. Sedangkan berkaitan dengan urusan akhiratnya di mana ia wajib mempelajari Islam karena ibadah-ibadah tertentu akan ia lewati setiap harinya. Setiap muslim tentu mesti mengetahui bagaimanakah ia harus berwudhu yang benar sehingga shalatnya pun bisa sah. Ia pun harus tahu apa saja yang termasuk pembatal-pembatal shalat, sehingga shalatnya tidak jadi sia-sia. Ia pun harus tahu bagaimana mandi wajib.

Lihatlah mereka bisa menyisihkan waktu untuk hal-hal dunia yang kadang sia-sia. Namun untuk hal yang menyangkut akhirat mereka, di mana tentu ini lebih urgent, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Benarlah firman Allah Ta’ala,
 “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Beberapa Sampel

Beberapa orang bisa membuktikan bahwa mereka di samping kuliah di pagi hari, sore harinya masih bisa “ngaji” (menuntut ilmu agama). Bahkan ada di antara mahasiswa yang bisa menjadi hafizh Al Quran dengan sempurna di masa kuliahnya. Ada pula yang bisa menguasai ilmu aqidah dengan baik padahal ia seorang dokter. Setelah kuliah pun ia bisa menyusun beberapa buku berkaitan dengan masalah aqidah dari hasil ia belajar di saat-saat kuliah dulu (paginya kuliah, sorenya ia duduk di majelis ilmu). Ada pula yang amat pakar dalam bahasa Arab dan menjadi seorang ustadz yang mumpuni dalam hal aqidah serta ilmu lainnya, padahal ia adalah sarjana biologi. Yang lainnya lagi adalah seorang dosen (lulus S3), namun tidak diragukan ia sangat mumpuni dalam ilmu hadits hasil dari belajar dulu bersama  beberapa ustadz di saat-saat ia kuliah. Bahkan di Arab Saudi sendiri ada seorang ulama yang dulunya adalah seorang yang belajar ilmu Teknik Kimia. Dan saat ini, beliau menjadi imam dan ulama yang jadi rujukan. Ia pun memiliki situs yang berisi berbagai fatwa yang sering dikunjungi dari berbagai negara. Ada lagi ulama yang dahulunya belajar ilmu teknik mesin. Saat lulus ia mendalami ilmu hadits dan menjadi hafizh al quran. Karya-karya beliau dalam tulisan pun amat banyak. Dua ulama yang kami sebutkan di sini adalah Syaikh Sholeh Al Munajjid dan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohumallah.

Itu sekedar beberapa contoh riil yang kami ketahui. Kami yakin masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin para pembaca sendiri mengetahuinya. Ini pertanda bahwa orang yang belajar ilmu umum (ilmu teknik, ekonomi, IT, dll) sebenarnya tidak terhalang untuk belajar agama bahkan bisa menjadi ulama atau pun ustadz karena kerajinannya di luar jam kuliah untuk mengkaji Islam. Itulah karunia Allah untuk mereka-mereka tadi.

Mulai Belajar Islam

Kalau sudah tahu demikian, Anda selaku mahasiswa seharusnya tidak usah ragu lagi untuk menaruh perhatian pada ilmu diin (ilmu agama). Cobalah mulai dengan mempelajari Islam mulai dari dasar. Terutama pelajarilah hal-hal yang wajib yang jika Anda tidak mengetahuinya maka bisa terjerumus dalam dosa atau bisa meninggalkan kewajiban. Inilah ilmu yang wajib dipelajari.

Selaku mahasiswa wajib punya ilmu aqidah dan tauhid yang benar sesuai dengan pemahaman generasi terbaik Islam (salafush sholeh). Cobalah mempelajari beberapa tulisan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Qowa’idul Arba’ (empat kaedah memahami syirik), Tsalatsatul Ushul (tiga landasan dalam mengenal Allah, Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan Kitab Tauhid (pelajaran tauhid dan syirik secara lebih detail). Kitab-kitab aqidah pun ada yang mudah dipelajari seperti Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah dan Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah karya Abu Ja’far Ath Thohawiy.

Anda pun wajib mempelajari fiqih secara bertahap terutama pelajaran bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana cara mandi wajib, dan bagaimana shalat yang benar serta berbagai hal yang berkaitan dengan hal-hal tadi. Amat mudah jika Anda menguasai dari fiqh madzhab sebagaimana anjuran para ulama. Karena di negeri ini menganut madzhab Syafi’i, Anda bisa belajar dari berbagai kitab fiqh Syafi’iyah. Pelajari dari matan-matan yang ringkas seperti kitab Al Ghoyah wat Taqrib karya Abu Syuja’ dan Minhajuth Tholibin karya Imam An Nawawi. Inilah kitab dasar yang bisa Anda kuasai. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kitab fiqih yang lebih advance dengan mendalami dalil-dalil lebih jauh. Baru setelah itu bisa menelaah berbagai pendapat ulama dan perselisihan mereka dalam hal fiqih sehingga akhirnya kita tidak fanatik pada satu madzhab atau satu imam. Anda pun bisa menguasai fiqih melalui berbagai buku hadits seperti dari kitab ‘Umdatul Ahkam karya ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi dan kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani. Untuk memahami kitab-kitab fiqih ini, Anda bisa memiliki berbagai kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing kitab.

Buku-buku yang kami sebutkan di atas sudah cukup mudah ditemukan saat ini di berbagai toko buku Islam bahkan sudah banyak yang diterjemahkan. Sehingga tidak ada alasan bagi yang belum menguasai bahasa Arab untuk terus belajar. Namun jika Anda sambil menguasai bahasa Arab terutama menguasai grammar-nya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf itu lebih baik. Karena menguasai bahasa tersebut bisa membuat Anda meneliti lebih jauh kitab-kitab ulama secara lebih mandiri.

Selain mempelajari hal-hal di atas, tambahkan pula dengan mempelajari berbagai kitab akhlaq dan tazkiyatun nufus (manajemen hati). Juga janganlah sampai tinggalkan hafalan Al Qur’an. Karena orang yang menghafal Al Qur’an sungguh memiliki banyak keutamaan dan faedah di tengah-tengah umat. Lebih-lebih di akhirat hafalan Al Qur’an ini membuat dia lebih ditinggikan derajat di surga. Lalu para ulama pun menganjurkan untuk menghafal berbagai matan atau berbagai kitab ringkas seperti menghafalkan kitab kecil yang berisi 42 hadits yaitu Al Arba’in An Nawawiyah. Menghafal seperti ini memudahkan kita menguasai ilmu Islam dengan lebih mudah.

Sabar dalam Belajar

Kalau dilihat, terasa begitu banyak yang harus dipelajari. Sebenarnya tidak juga karena mempelajari berbagai buku di atas itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih dasar, baru setelah itu beranjak pada yang lebih lanjut. Jadi belajar yang baik adalah secara bertahap.  Sehingga di sini butuh kesabaran dalam belajar dan belajar butuh waktu yang lama. Yang terbaik pula adalah belajar di majelis ilmu lewat guru. Lihatlah sya’ir Imam Asy Syafi’i,
"Saudaraku … ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama"

Pintar Bagi Waktu

Modal yang penting “nyambi” belajar Islam adalah pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari Shubuh hari sudah bisa menghafal Al Qur’an. Butuh satu jam untuk menyisihkan waktu kala itu. Setelah itu sediakan waktu untuk persiapan kuliah di pagi hari. Pukul 7 atau 8 sudah bisa berangkat ke kampus. Di waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus bisa digunakan untuk muroja’ah Al Qur’an atau mengerjakan  tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk keesokan harinya. Pulang kampus di siang atau sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sehabis ‘Ashar bisa digunakan untuk mengikuti berbagai majelis ilmu sampai dengan waktu ‘Isya. Di  waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebelum tidur bisa digunakan menghafal berbagai matan, mengulang hafalan Al Qur’an atau mengulang pelajaran yang ikuti di kajian.

Jadi cuma kepintaran saja membagi waktu, niscaya kita bisa kuliah sambil “ngaji”. Dan jangan lupakan minta pertolongan Allah agar dimudahkan mempelajari agama di samping kuliah. Doa ini amat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan tadi akan begitu mudah. Berbeda halnya jika kita bergantung pada diri sendiri yang begitu lemah.

Baca selengkapnya di rumaysho.com:



Posted on Thursday, June 28, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments


Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya :

Soal pertama
Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran:185) .

Soal kedua
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang

Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Soal ketiga
Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?

Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf:  179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka .
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai. " (Surah Al-A'raaf, Ayat 179)

Soal keempat
Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?

Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah

Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.'

Soal kelima
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?

Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun

Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. Na'uzubillahiminzaa lik.

Soal keenam
Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?

Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang

Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. 


Teka-teki ini merupakan
repost dr http://forum.republika.co.id/showthread.php?2003-Teka-Teki-Imam-Ghazali 

Posted on Thursday, June 28, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments

Tuesday, June 26, 2012

"Mengenang dan mengingat masa lalu, kemudian bersedih
atas kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh
dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, 
memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi"

Dr. 'Aidh al-Qarni

Posted on Tuesday, June 26, 2012 by Akhdan Mumtaz

No comments