Sunday, April 5, 2015

Beliau selalu mengayuh sepeda ke Masjid. Ketika berpapasan dengan kami selalu menyapa dengan salam hangat penuh do’a. “Assalamu’alaikum”, sapa beliau setiap berpapasan sambil mengayuh sepedanya. Beliau biasanya menjadi imam sholat Dzuhur dan Ashar di Masjid kami. Sekaligus beliau merupakan Ketua Takmir Masjid. Hingga selama beberapa hari kami jarang melihat wajah beliau yang selalu hadir disetiap waktu sholat berjama’ah.  

Hari itu, sungguh Allah Maha Besar Cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang baik, salah satunya beliau insya Allah. Kami mendapatkan kabar duka. Ba’da sholat Subuh berjama’ah. Kami jama’ah Masjid diberikan pengumuman oleh imam sholat Subuh saat itu. “Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Sukiran, Ketua Takmir Masjid Al-Ashri”. Terjawab sudah pertanyaan kami selama beberapa hari. Ternyata beliau sakit dan sempat dirawat inap di Rumah Sakit. Dan hari itu, Allah memanggil beliau dengan kasih sayang-Nya.

Maka bertepatan sesudah pengumuman itu, kami semua jama’ah Masjid bersama-sama menuju rumah duka. Ba’da Subuh, jalanan menuju rumah beliau pun ramai dengan jama’ah Masjid. Bahkan tidak hanya jama’ah Masjid Al Ashri, jama’ah dari Masjid Pogung Dalangan pun ternyata datang untuk ikut menshalatkan jenazah di rumah duka. Satu persatu kami bergantian untuk menshalatkan, apalagi dengan jumlah jama’ah yang hadir di waktu yang sangat jarang terjadi bagi saya untuk menshalatkan jenazah. Ba’da Subuh.

Ukhuwah. Ingatan saya tetiba sampai pada bagaimana Rasulullah SAW dulu mengajarkan tentang persaudaraan. Beliau menyediakan waktu khusus untuk memperhatikan setiap wajah sahabat, jama’ah Masjid Nabawi kala itu. Ketika ada wajah yang beliau periksa tak hadir, Rasulullah SAW akan bertanya kepada para sahabat yang lain. “Kemanakah saudara kita ini?”, tanya beliau ketika ada wajah yang tak biasanya tak hadir shalat berjama’ah. Masih banyak hal yang mungkin belum sempurna bagi kita, terkhusus saya pribadi dalam menauladani beliau. Terutama belajar dari pengalaman berinteraksi bersama beliau, Bapak Sukiran, yang semoga Allah terima ditempat terbaik disisi-Nya.

Semoga Allah menguatkan kita untuk jadi pengikut yang benar-benar mentauladani Rasulullah. Yang menjadikan cinta kepada Rasulullah sebagai tak terpisahkan dari cinta kepada Allah SWT.
Wallahu a’alam bi shawab

Yk.5.4.2015
*sesaat setelah waktu Dzuhur

Idzkhir al-Mu’adz     

Posted on Sunday, April 05, 2015 by Akhdan Mumtaz

No comments

Sunday, March 29, 2015

Pekan lalu, menjadi sebuah kesyukuran bagi saya karena termasuk yang beruntung bisa memperoleh ilmu bersama para Asatidz Rumah Fiqih dot com.  Ya, bermula dari ikhtiar Ummi Masbihah dan beberapa panitia untuk memberi kepahaman ilmu fiqih kepada banyak orang terkhusus masyarakat kampus. Maka hadirlah sebuah agenda Dhouroh Fiqih yang bagi kami luar biasa. Saya pun termasuk salah satu yang ikut agenda tersebut full selama dua hari.
Rangkaian agenda Dhouroh Fiqih ini antara lain terdiri atas tiga : Pra Dhouroh, Dhouroh hari 1 (5 sesi), Dhouroh hari 2 (5 sesi) dan sebenarnya masih berlanjut dengan Dhouroh hari 3 (1 sesi). Akan tetapi, saya tidak bisa mengikuti agenda di sesi terakhir karena jatuh sakit.  

Pra Dhouroh
“Super & Menyentil”. Hikmah pertama mungkin yang saya dapat. Sangat berbeda dengan bayangan awal kita untuk setiap agenda Pra Dhouroh, agenda ini justru seperti tes pemahaman dasar tentang Fiqih. Meskipun Ummi selalu menyampaikan bahwa agenda tersebut bukan tes. Bagian awal kami diberi kesempatan membaca beberapa artikel tentang fiqih, perbedaan madzhab, dll untuk selanjutnya diminta memberikan testimoni. Testimoni saya secara umum adalah ternyata apa yang saya peroleh selama 2 tahun di pondok asrama mahasiswa tidak melekat secara utuh. Ilmu-ilmu seperti Musthala Hadits, Ulumul Qur’an, Ushul Fiqih, Fiqih Jinayah, Fiqih Sunnah, dll, seolah saya peroleh tapi tidak tergigit hingga ke gigi  geraham. Astaghfirullah. Semoga Allah rahmati para Asatidz yang memberikan ilmunya kepada kami yang “bandel” ini.

Maka dengan sentilan dari pra dhouroh tersebut menumbuhkan kembali semangat untuk kembali menggali apa yang dulu pernah saya peroleh. Apalagi beberapa output yang diinginkan dari daurah fiqh tersebut memang penting. Diantaranya : Agar kami mampu bersikap bijak terhadap berbagai perbedaan pendapat, terutama dalam hal fiqih. Bisa mengetahui dasar/pedoman awal belajar fiqih (muqadimah fiqih) serta mengenal ilmu fiqih secara utuh. Bisa memahami urgensi mengenal ulama dan memahami kaidah bermadzhab, dst. Menarik? Tentu saja. Semangat itulah yang menguatkan komitmen pribadi saya untuk bisa mengikuti agenda ini secara maksimal.  
Dhouroh Sesi 1
Agenda hari pertama dimulai jam 8.00 di Pesantren Darush Shalihat. Terdiri atas lima sesi. Khusus sesi pertama, dibersamai oleh Ustadz Isnan Anshori, Lc. Belum mengenal beliau? Silahkan kunjungi rumahfiqih.com maka akan terlihatlah profil beliau sebagai salah satu kontributor utama. Saya pun baru sadar ketika membuka halaman tersebut setelah agenda selesai. Bahwa ternyata kami dibersamai oleh Ustadz yang memiliki kepakaran atas ilmu yang disampaikan kepada kami.

Sadar atau tidak, bisa jadi materi pertama ini seperti mencambuk kami dalam memahami prioritas ilmu. Bahwa bisa jadi selama ini kita menuntut ilmu belum berdasarkan atas aspek prioritas utama yang mana. Akan tetapi, berdasar minat yang mungkin ikut-ikutan. Sepertinya seru untuk kuliah maka kita pun kuliah. Sepertinya seru untuk belajar bahasa asing, kita pun belajar dan kursus bahasa asing. Bahkan ketika pun kita menyadari pentingnya ilmu agama, itu pun dalam kerangka yang terparsialkan dengan ilmu yang sedang kita pelajari. Sekuler kalau bahasa yang umum digunakan.

Lalu bagaimana seharusnya? Kembalilah memahami tentang apa itu ilmu. Itulah yang disampaikan di materi sesi pertama. Bahwa dari perspektif hukum, ilmu itu terbagi atas dua. Yakni :
Ilmu Hal, ilmu yang wajib setiap Muslim mengetahui ketika akan melakukan aktivitas itu. Ketika kita akan memasuki bulan Ramadhan, maka ilmu yang wajib kita ketahui adalah ilmu tentang puasa Ramadhan. Ketika kita akan bepergian (musafir) maka ilmu yang wajib kita ketahui adalah ilmu dalam keadaan safar, dll.
Ilmu selanjutnya tentu ilmu yang belum wajib karena kita belum akan melaksanakan aktivitas tersebut. Dikenal dengan istilah Ilmu ‘Ahayyin.

Nah, terkhusus ilmu syar’i, ia pun terbagi atas dua. Ilmu Asasi dan Ilmu Alat. Ilmu Syar’i yang asasi terdiri atas :
1. Aqidah
2. Fiqih, 
terdiri atas Fiqih Ibadah dan Mu’amalah
3. Akhlak
Dan untuk ilmu syar’i yang alat terdiri atas:
1. Ulumul Qur’an
2. Ulumul Hadits
3. Ushul Fiqih
4. Bahasa Arab
5. Tarikh Islam

Berdasarkan kerangka ini, maka ketika ilmu syar’i menjadi ilmu yang wajib untuk kita pahami, seminimal-minimalnya kita harus selesai dalam pemahaman yang asasi. Yakni Aqidah, Fiqih dan Akhlak. Mungkin problematiknya, bisa jadi kita termasuk yang belajar dengan loncatan “kuantum”. Satu waktu semangat untuk belajar bahasa Arab tanpa tahu bagaimana setelahnya. Setelahnya tiba-tiba semangat beralih untuk belajar Qur’an, Hadits, dll tanpa terbangun kerangka awal untuk mempelajarinya bagaimana.

Lalu bagaimana harusnya? Tentu aspek asasi ini penting untuk prioritas pertama kita pahami. Karena dia adalah aspek dasar sebelum beralih ke banyak aktivitas ikutannya. Aqidah adalah pondasi dasar kita beriman dan beramal. Untuk beramal kita harus paham bagaimana Allah telah menetapkan hukum. Dan itu, dapat kita pahami dengan memahami Fiqih. Untuk selanjutnya dilengkapi dengan peran interaksi kita bersama manusia dengan Akhlak.
“Tercerahkan”. Menjadi ekspresi beberapa peserta ketika ditanyakan pendapatnya tentang materi ini. Ya, bisa jadi kita belum tepat dalam meletakkan prioritas ilmu yang mana untuk kita pahami dan pelajari selama ini.
Wallahu a’lam bi shawab.


*di sudut ruangan Andalusia
 Yk.29.3.3015

Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Sunday, March 29, 2015 by Akhdan Mumtaz

No comments

Thursday, March 26, 2015

Adalah sandal, sebuah benda yang sangat dekat dan setia dengan kita. Setia menjadi alas kaki, yang dengannya harus menanggung beban dari kita berapa pun berat badan kita. Kita mungkin sangat perhatian terhadap berapa berat badan kita. Sudah ideal, kurang atau berlebihkah. Demi terlihat baik dihadapan manusia. Tapi apalah sandal, berapa pun berat badan kita, dia tetap akan siap untuk menanggung bobot kita. Bahkan dengan kondisi tak ideal dari dirinya. Ketika dia sudah sangatlah tipis termakan usia, ketika beberapa bagian dari asesoris tubuhnya sudah lepas satu persatu, bahkan ketika bentuknya sudah kusam dan mungkin sebenarnya sudah “tidak layak pakai”. Kita tetap mempergunakannya. “Cuman dipergunakan untuk berjalan beberapa meter kok. Kenapa harus bagus?”, sebagian dari alasan kita. Sandal, darinya kita belajar bahwa ketika telah baginya ditetapkan sebuah amanah untuk menanggung beban manusia, dia siap. Dengan kondisi apapun yang ada pada dirinya.


Adalah sandal, yang mungkin bagi kita tak terlalu berharga dibandingkan sepatu. Sandal bukanlah alas kaki yang dirasa “pantas” dipergunakan untuk bertemu dengan “orang penting”. Saat seorang pencari kerja dan beasiswa harus bertemu user untuk wawancara, jarang bahkan tak pernah dia menggunakan sandal. Saat seorang harus ke kantor-kantor umum untuk sekedar bertanya, dipintu masuk seseorang kadang sudah terhenti dengan rambu-rambu “Kaos Oblong dan Sandal Dilarang Masuk”. Itulah sandal, nilai kepatutan dan sosialnya telah ditetapkan. Tak begitu berharga secara sosial dibanding sepatu. Berapa pun mahal harganya. Akan tetapi, dia tetap kita butuhkan dengan fleksibelitas dan kenyamanannya. Mungkin apabila kita ditanya, “Untuk pergi kemana-mana enak mempergunakan apa? Sandal atau sepatu?”. Semua kita akan serentak menjawab, “Sandal”. Ya, sandal. Darinya kita belajar, bahkan sesuatu bisa sangat dibutuhkan bukan karena status sosialnya. Namun karena peran dan fungsinya.


*ceritanya sandal saya tertukar
beberapa hari yg lalu :)
 Yk.7.3.2015


Idzkhir al Mu’adz

Posted on Thursday, March 26, 2015 by Akhdan Mumtaz

No comments

Friday, December 12, 2014

Jika kita berbicara tentang ashalah dakwah, tentu saja ini sebuah masalah yang besar, karena terkait langsung dengan ashalah Islamiyah. Tidak mungkin dibicarakan dalam 1–2 halaman situs ini. Orisinalitas dakwah tidak memiliki mabadi (prinsip), kecuali mabadi imaniyah dan fikriyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tulisan ini adalah upaya untuk menyegarkan pemahaman kita.

Ashalah dakwah islamiyah itulah yang dipakai gerakan Islam di mana-mana, tak ada perbedaannya. Betapa luasnya pembicaraan tentang ashalah dakwah seluas pembahasan tentang Islam. Salah satu keistimewaan dakwah ialah ruang lingkup yang tercakup dalam syumuliyah dan takamuliyah (universalitas dan integralitas) ajaran Islam, juga keterpaduan dari perjuangan, tatanan, serta sistem yang diterapkan.

Masalah syumuliyah dan takamuliyah itu lebih ke pendekatan prinsipil, tetapi dari pendekatan operasional terlihat kemampuan dakwah Islam kontemporer untuk mewarisi nilai-nilai Islam dan nilai-nilai dakwah dari para Rasul dan Anbiya, para shahabat Nabi dan juga para salafus shalih. Kemampuan itu dalam bentuk tawazun (keseimbangan) dalam melakukan langkah-langkah ta’shiliyah (orisinalisasi) dan tathwiriyah (improvisasi), mutawazinah baina khuthuwat al ta’shiliyah wa khuthuwat al tathwiriyah.

Itulah salah satu tamayuz (keistimewaan) dakwah kontemporer yang sebenarnya merupakan tamayuz islami yang banyak diabaikan gerakan dakwah, meskipun kita respek dan mengakui eksistensi perjuangan mereka sekaligus mengakui keikhlasan dan pengorbanan mereka dalam berjuang. Tetapi, qudrah ad da’wah dalam menyeimbangkan ta’shiliyah dan tathwiriyah di zaman modern ini harus benar-benar dilaksanakan secara konsisten.

Sudah barang tentu, apabila kita membahas dakwah antara upaya orisinalisasi dan improvisasi perlu waktu yang panjang. Di sini saya hanya ingin menyampaikan sedikit sebagai dzikra (peringatan) dan sebagai resume terhadap perjalanan dakwah yang sudah kita lakukan.

Konsistensi kita dalam menjaga ta’shil dan tathwir sangat penting bagi keselamatan kita sendiri, baik secara pribadi maupun sebagai sebuah entitas gerakan dakwah. Sebab, tanpa adanya keseimbangan antara orisinalitas dan modernitas akan banyak sekali kemungkinan penyimpangan dakwah akibat mengabaikan prinsip keaslian dan pengembangannya. Kita mengetahui universalitas dan integralitas dakwah tergambar dari upaya membangun hablun minallah dan hablun minannas yang baik.

Kemampuan kita dalam menjaga keseimbangan dari aspek ta’shil bertitik berat pada utuhnya komitmen kita kepada Allah dan Rasul-Nya, al Kitab dan as Sunnah. Sementara konsistensi kita dalam membangun khuthuwat at tathwiriyah adalah menjaga hablun minannas dengan baik. Tanpa kedua aspek itu, maka akan terjadi inkhirafat(penyimpangan) yang menimbulkan bala dan malapetaka di dunia dan akhirat.

Kemampuan kita dalam mengelola dakwah dari sisi ta’shiliyah lebih dekat kepada konteks hubungan kita dengan Allah dari aspek moral, ma’nawiyah dan ruhiyah yang dibentengi dengan sehatnya aqidah kita dari kemusyrikan yang kecil maupun besar, dari kemusyrikan yang tampak maupun tersembunyi, yang menyelinap dalam pikiran kita. Dengan selalu memperhatikan khuthuwat ta’shiliyah kita memelihara keutuhan ruhiyah, fikriyah, dan manhajiyah secara baik.

Salah satu cara untuk mempertahankan kesadaran tentang pentingnya khuthuwat ta’shiliyah, dalam konteks pembinaan di masa tamhidiyah atau takwiniyah, adalah kesadaran akan posisi manusia (manzilat al insan) di hadapan Allah Ta’ala.
Pertama, posisi manusia sebagai makhluk penting disadari, betapapun tingginya ilmu dan jenjang keulamaan kita, betapapun terhormatnya jabatan kita di masyarakat atau negara. Menghidupkan kesadaran akan posisi sebagai makhluk penting dalam aspek ketergantungan kepada Sang Khaliq. Tidak satupun makhluk ciptaan yang tidak bergantung kepada Pencipta-nya.

Tidak ada satupun produk yang tidak memiliki ketergantungan pada pembuatnya. Produk keluaran pabrik saja, merek-merek mobil yang terkenal sekalipun tergantung dari produsen yang membuatnya, baik ketergantungan teoretis dengan petunjuk manualnya, maupun ketergantungan atas software atau hardware dalam beragam spare parts yang besar maupun kecil. Itu tampak sepele, namun sangat penting untuk menunjukkan kesadaran kita bahwa manzilah kita di hadapan Allah hanyalah makhluk. Itu merupakan modal dasar untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Kesadaran kedua dari manusia di hadapan Allah adalah sebagai hamba. Kesadaran ini penting dibangun sebagai apresiasi dari keinginan, kehendak, dan rencana yang sangat terkait dengan grand design yang sudah ditentukan Allah. Kesadaran sebagai makhluk bersifat mutlak, sedang kesadaran sebagai hamba bisa relatif, banyak yang menolak. Kita tidak mempunyai kehendak apapun, kecuali dengan apa yang dikehendaki Allah Ta’ala. Ayat al-Qur’an banyak menjelaskan sisi aqidah dengan memusatkan kesatuan kehendak, keinginan, dan rencana segala sesuatu sesuai dengan iradah-Nya. Itulah tugas manusia sebagai hamba-Nya.

Ketiga, kesadaran manusia sebagai junud (tentara) Allah. Sebagai prajurit kita harus merasakan adanya jalur komando dari Allah dan Rasul-Nya yang mutlak ditaati, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an. Itulah posisi kita sebagai prajurit yang senantiasa siap menerima komando. Insya Allah, jika ketiga jenis kesadaran itu dijaga dengan baik melalui upaya-upaya ta’shil yang mengarah pada ashalah islamiyah dan dakwah, maka gerakan akan senantiasa tumbuh.

Setelah kesadaran akan posisi manusia, maka selanjutnya kesadaran akan watak asli manusia (thabiat al insan). Humanity by nature, kata orang, kemanusiaan yang sesuai dengan tabiat yang telah ditentukan Allah. Kesadaran ini penting agar kita tidak terjebak pada persepsi-persepsi yang mungkin timbul dari rencana-rencana terhadap evaluasi tarbiyah, seolah-olah hal itu akan mengangkat dan melepaskan kita dari watak kemanusiaan. Kita dididik melalui proses tarbiyah untuk mengutuhkan kemanusiaan kita, bukan melepaskannya, baik menuju kemuliaan yang seringkali diidentikkan dengan watak malaikat. Kita tetap seorang manusia, namun ingin menjadi manusia seutuhnya. Yang penting bagaimana mengelola kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.

Jangan digambarkan dari proses tarbiyah akan muncul insan yang kamil tanpa cacat. Kita adalah manusia sebagaimana Ibnu Adam lain yang memang diberi kehormatan, tetapi tetap saja bisa lupa dan sering berbuat salah. Manusia adalah makhluk yang sering berbuat salah. Kesadaran itu sangat penting agar dengan kelebihan dan kekurangan manusiawi kita bisa mengelolanya. Dengan demikian kita akan terjaga dari ghurur (arogansi) seperti Fir’aun yang merasa dirinya adalah Tuhan, atau juga terjaga dari keputusasaan yang melumpuhkan dakwah. Kita berjuang sesuai dengan fitrah, sesuai dengan tabiat insaniyah ataupun tabiat kauniyah yang terdapat dalam diri, masyarakat dan alam semesta.

Ketiga adalah kesadaran akan tugas kemanusiaan (risalat al insan) kita. Kita memiliki misi ibadah dan pengabdian. Segala gerak hidup: apa yang kita miliki, apa yang kita lakukan adalah ibadah. Sehingga, apapun yang kita miliki harus dikalkulasi, akankah meningkatkan ibadah kita kepada Allah atau tidak. Misi total kita adalah pengabdian kepada-Nya.

Keempat kesadaran akan misi khilafat al insan. Mengapa manusia diberi kemuliaan? Karena kita diberi tugas yang besar, yaitu menjalankan khilafah (pengayoman dan kepemimpinan) yang pada hakekatnya berlaku untuk semua orang, baik mu’minuhum wa kufrahum, mereka yang beriman dan amanah maupun tidak.

Kesadaran itu penting agar kita selalu merasa dalam tugas (on duty), tak ada perasaan mau cuti. Mungkin kita perlu rehat. Ya, rehat itu dalam rangka mengumpulkan potensi kita untuk melaksanakan tugas lainnya. Bukan berarti cuti secara total dengan tidak ada kaitannya terhadap misi dan wazhifah kita. Maka, dalam tarbiyah dikenal adanya program rihlah dan mukhayam dalam rangka membangun potensi agar langkah kita lebih kuat dan cepat dalam akselerasi perjuangan ini.

Jika kesadaran tentang manzilat al insan, thabiat al insan, risalat al insan, dan wazhifat al insan tadi selalu dijaga, maka proses ta’shiliyah akan senantiasa hidup. Upaya orisinalisasi harus terus dipertahankan, agar kita terhindar dari efek negatif, salah satunya berupa pelarutan.

Jika kita mengabaikan khuthuwat at ta’shiliyah, maka dakwah kita akan mengalami pencairan dan pelarutan. Biasanya sebelum larut akan mencair terlebih dulu, sebab madah jamidah (benda padat) itu sulit dalam pelarutan, tetapi madah ma’iyah (benda cair) paling mudah untuk melarut. Dalam dakwah jamahiriyah kita berinteraksi dengan segala jenis manusia. Banyak persentuhan dengan manusia dari segala jenis organisasi dan ideologi bisa menyebabkan tamayu’ al khuluqi (pencairan perilaku). Nau’udzubillah, hal itu akan berlanjut pada idzabah al khuluqiyah (pelarutan perilaku), jika kita tidak berpegang teguh pada ashalah.

Akibat dari tamayu’ dan idzabah ini sudah jelas, indikatornya yang paling menonjol adalah tasahul (menggampangkan atau menyepelekan) segala pelanggaran. Kita memang harus toleran atas efek negatif tarbiyah manusia, tetapi bukan mengampangkan, karena itu harus ditindaklajuti dengan ilaj tarbawi (terapi edukatif) atau ilaj ijtimai(sosial), ilaj tanzhimi (organisasional) atau ilaj iqtishodi (finansial), semuanya bisa kita lakukan tergantung masalah yang terjadi.

Semua kondisi direspon dan diantisipasi agar tidak membesar. Sudah tentu kita sebagai dai harus memperhatikan diri sendiri dan orang lain yang berada di bawah pengawasan kita. Penyimpangan berawal dari tasahul lama-lama menjadi idzabiyah, segalanya serba boleh (permisif), dalilnya gampang dicari. Akhirnya menjadi dalil tunggal, yakni kedaruratan. Yang paling harus kita waspadai adalah awal pelarutan sebagaimana tadi diungkapkan.

Dalam merespon tugas yang semakin berkembang mungkin terjadi tamayu’ wa idzabiyah dalam ubudiyah mahdlah, karena terlalu sibuk sehingga dalam sebulan penuh tercatat: shaum (puasa) nol, tahajud nihil. Dalam baramij tarbiyah semua program itu ada, tetapi sifatnya sebagai stimulan (ayyam al bid, usbu’ ruhi dan sebagainya). Buah stimulasi adalah munculnya iradah dzatiyah atau tarbiyah dzatiyah dengan amal dzati di luar program itu. Harus diwaspadai agar tamayu’ khuluqi dan idzabah ubudiyah ini tidak timbul. Bila dibiarkan akan berlanjut pada idzabah fikriyah (ideologis) dan kacau balau. Kita akan mengambil fikrah dari kiri-kanan dan meninggalkan manhaj yang benar.

Apabila sudah terkena idzabah khuluqiyah, ta’abudiyah, dan fikriyah, maka akan timbul idzabah aqidiyah. Mulanya mengakui kesejajaran aneka ragam keyakinan, misalnya di kalangan internal Islam (antara ajaran Syiah dan Sunnah) adalah sama. Kemudian berkembang keluar dengan menyamakan ajaran lain seperti komunisme, sosialisme, dan Islam sama saja untuk manusia juga. Kebenaran yang mutlak hanya dalam Islam, pemahaman seperti itu menjadi luntur.

Memang semua ajaran ada kebenarannya, tetapi tidak semuanya benar, yang jelas banyak kesalahannya. Jika lemah dalam langkah-langkah ashalah, maka akan terjadi idzabiyah dan tamayu’ di berbagai sektor. Jika hal itu terjadi pada suatu golongan, maka sudah tentu terjadi kehancuran dunia dan akhirat.

Bila ta’shiliyah tidak diimbangi dengan tathwiriyah akan menimbulkan tajamud. Mungkin akan merasa bahwa dirinya sajalah yang akan masuk surga dan yang lain adalah al ma’un, kufr dan sebagainya. Golongan itu tidak dapat memanfaatkan pengalaman dan potensi orang lain. Ketika terjadi mutajamid ruhi, maka pemikiran akan sulit menerima masukan dari orang lain. Bila terjadi tajamud aqidi, maka akan terasa dengan aqidah semata semuanya akan beres, tetapi aqidah bukan segala-galanya.

Memperhatikan idealitas, rasionalitas dan realitas. Mereka yang mengabaikan ketiga hal itu terkena wahm. Memperhatikan realitas saja akan melahirkan sikap pragmatis, memperhatikan idealitas saja akan menghasilkan perfeksionis, tetapi tak bisa melaksanakan. Sementara memperhatikan rasionalitas saja akan melahirkan sikap teoretis belaka.

Kita harus mampu mengkomunikasikan rencana dakwah kita dengan baik. Kemampuan mengkomunikasikan ini intinya ada pada qudrah mukhatabah, yakni qawlan sadida atau kalimat yang tepat. Bisa bersikap tegas, lembut, sindiran dan lain-lain. Patokannya adalah “khatibunnas ala qadri uqulihim” (sesuai kemampuan intelektual), “khatibunnas ala lughatihim” (memperhatikan budaya dan bahasa kaumnya), karena manusia adalah anak lingkungannya.
Sebagai dai kita harus memiliki qawlan sadida, baik melalui pendekatan intelektual, sosial maupun budaya. Yang pertama adalah mengakui keberadaannya, kemudian mencari cara yang tepat untuk mendekatinya. Dalam Al-Qur’an ada seruan: “Ya ayyuhannas…ya ayyuhalladzina amanu…” dan sebagainya. Dengan pemilihan kata yang tepat, maka “yuslih lakum amalakum”. Menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Lebih besar dari itu semua adalah ampunan dari Allah.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/06/14/193/orisinalitas-dakwah/#ixzz3Lg1z0Nmj 

Posted on Friday, December 12, 2014 by Akhdan Mumtaz

No comments

Wednesday, November 26, 2014

Sepertinya baru beberapa waktu yang lalu, saya diantarkan orang tua di hari pertama sekolah di sekolah dasar. Baru beberapa waktu lalu saya pamitan meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan sekolah.
Begitu pun beberapa waktu yang lalu, ketika akhirnya kedua orang tua datang menemui saya di Bandara Adisucipto dengan senyum bahagia.

Senyum Bahagia, yang saya pun tidak bisa mengungkapkannya bahkan mendeskripsikannya. Senyum bahagia yang diiringi tanpa banyak ungkapan kata-kata kecuali pertanyaan, "Sehat Id?". Mungkin itulah senyum bahagia, ekspresi dari kebahagiaan kedua orang tua kita ketika melihat sedikit buah dari perjuangan dan pengorbanannya kepada kita sebagai anak.

Semoga kita menjadi anak yang senantiasa membuat kedua orang tua selalu tersenyum bahagia dalam setiap ekspresinya, ketika mengingat maupun melihat kita.


Yk.26.11.2014


Posted on Wednesday, November 26, 2014 by Akhdan Mumtaz

No comments

Monday, November 17, 2014


Kita bukannya tidak bisa, tapi tidak sempat.
Kita bukannya tidak sempat, tapi tidak mau.
Kita bukannya tidak mau, tapi tidak tahu.
Kita bukannya tidak tahu, tapi tidak peduli.
Kita bukannya tidak peduli, tapi tidak bisa.


Setuju dengan siklus di atas? Itulah siklus stagnan. Siklus yang diam, statis, tidak bergerak, dan jika dibiarkan terus akan menjadi penyebab terhentinya aliran kebaikan lantaran tidak adan satupun hati yang tergerak. Layaknya air yang tidak bergerak, cepat atau lambat akan menimbulkan kekeruhan dan menjadi sumber penyakit.

Saudaraku, sadarkah bahwa siklus ini kerap kita temui, hadapi, atau mungkin pernah kita jalani tanpa kita sadari? Mungkin bermula dari munculnya rasa malas, kemudian lahir kecenderungan untuk melarikan diri dari amanah dan masalah, hingga akhirnya terciptalah alasan-alasan yang sekiranya dapat dijadikan pembenaran atas kekeliruan yang terjadi. Kala itu, berjuta alasan lahir seakan tanpa dipikir. Atau mungkin dipikir dulu, barulah lahir sebuah alasan.
Lantas siapakah yang terjebak pada siklus stagnan ini? Entahlah. Bisa jadi kita semua. Karena kita hidup dalam sebuah sistem. Laksana siklus hujan, yang mana awal dan akhir hanyalah titik di mana sebenarnya semua saling terkait.

Jika pada pertandingan sepak bola kita dihadapkan dengan pertanyaan, “Apa yang kamu inginkan dalam pertandingan ini?” Sudah tentu jawabannya kemenangan. Namun saat kemenangan itu teraih, muncul kembali pertanyaan, “Kemenangan ini karena siapa?” Saat itulah muncul banyak spekulasi. Ada yang berkata bahwa ini terjadi karena sang kiper begitu lihai dalam menangkap bola; Juga disebabkan para penyerang yang pandai memasukkan bola ke gawang lawan; Atau karena bagian gelandang yang cekatan merebut bola dan memberikan umpan cantik.

Namun bagaimana kalau keadaan yang terjadi adalah sebaliknya, tim kita kalah, dan kita kembali dihadapkan dengan pertanyaan serupa namun sedikit berbeda, “Kekalahan ini karena siapa?” Saat itu, banyak sekali hujatan, sikap saling menyalahkan, dan kita pun mencari-cari pembenaran guna melepaskan diri dari tanggung jawab.

Saudaraku, sadarkah bahwa saat ini kita tengah tercatat sebagai pemain dalam sebuah pertandingan? Pertandingan yang jauh lebih penting dari sepak bola. Pertandingan yang terus berlanjut hingga napas kita tiada. Pertandingan yang membuat hidup kita mulia di dunia dan mengantarkan kita ke dalam Surga. Sebuah pertandingan, di mana mulanya terjadi pada kesadaran hati kita. Ya, pertandingan melawan kebatilan pada sebuah lapangan amal bernama dakwah.

Jika kembali merujuk kepada sepak bola, ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai kemenangan: skill individu dan soliditas kinerja tim. Begitu pula dalam dakwah. Setiap dari kita janganlah puas terhadap kondisi yang ada, hingga kita terlena dan merasa aman-aman saja. Apalagi yang lebih parah, kita jumawa bahwa kita sudah menang. Padahal, belum ada pengumuman resmi bahwa pertandingan ini telah usai! Maka penting kiranya setiap dari kita terus berlatih meningkatkan kapasitas (fastabiqul khoirots) baik secara ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah, serta berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi pemain-pemain unggulan yang dapat membawa pertandingan ke arah angin kemenangan.
Namun kadang kala yang terlewat adalah, saat skill tiap individu mulai meningkat, justru kinerja tim (‘amal jama’i) yang melemah. Padahal, sebaik apapun kualitas individu, jika tidak disertai kualitas kerja tim yang baik, maka akan sulit mencapai kemenangan. Itu sebabnya mengapa Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.” Ada pula filosofi sapu lidi, di mana sapu lidi sebatang tidak akan cukup kuat dan efektif dalam membersihkan.

Ya, kedua hal itulah yang menjadi dasar kemenangan dakwah. Namun irosnisnya, dalam pertandingan ini, yang mana Islam sudah pasti menang, hanya saja terkadang beberapa pemainnya tidak sadar bahwa mereka adalah pemain. Mengapa? Karena mereka terjebak siklus stagnan. Itulah yang membuat mereka sulit mencetak gol, atau bahkan kerap melakukan gol bunuh diri. Kala itu, banyak pihak lebih memilih untuk mencari kambing hitam, atau diam seribu bahasa, menutup mulut, mata, dan telinga terhadap yang terjadi.
Bayangkan jika setiap pemain berpikiran sama, “Biarkan perjuangan ini dijalankan oleh yang lain. Saya merasa belum pantas atau cukup sibuk sehingga belum bisa ikut berjuang. Lagi pula, tanpa saya pun sudah ada yang berjuang.” Coba tebak, kalau begini, lantas apa yang akan terjadi? Hal tersebut sama dengan pengendara kendaraan yang berpikiran, “Ah, aku lewat jalan ini saja, karena aku pikir jalan itu pasti macet sekali.” Namun sayang, banyak pengendara kendaraan lainnya yang berpikiran sama. Alhasil jalan yang dipilih jadinya macet, sedangkan jalan yang dihindari malah lengang sekali.
Saudaraku, Islam mengehendaki kita untuk beramal dengan jiwa dan harta kita. Menjadi pemain utama dalam perubahan. Bukan sebagai pemain figuran apalagi sebagai penonton yang kerjanya hanya duduk-duduk, dan menanti kapan kemenangan akan tiba begitu saja! Terkait hal ini, Allah berfirman,
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4: 95-96)
Janganlah seperti Bani Israil yang sudah ditolong Allah, tapi tetap saja membandel. Sudah dibebaskan dari cengkaraman Fir’aun, tapi tetap saja menyembah berhala. Diberikan makanan yang enak, bukannya bersyukur malah meminta yang lainnya. Bahkan saat diberi kenikmatan tempat tinggal yang sudah dijamin kemenangannya di Palestina, apa jawaban mereka?
“Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (QS. 5: 24)
Tapi lihatlah bagaimana gambaran pengikutnya Nabi Isa A.S. dalam surat Ash-Shaaf ayat terakhir,
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. 61: 14)
Kemenangan Islam merupakan keniscayaan. Tinggal kita yang putuskan, akan tetap berjuang dalam barisan sebagai pemenang atau tertinggal di belakang sebagai pecundang. Apa yang kita ragukan? Kini bukan saatnya lagi mata-telinga kita tertutup, mulut terkatup, hati terbungkam, dan gerak terdiam. Siklus stagnan hanyalah sebuah belenggu penjara yang sebenarnya kunci pintunya ada di tangan kita. Bila bukan kita yang membukanya, lantas siapa?


Posted on Monday, November 17, 2014 by Akhdan Mumtaz

No comments

Sunday, November 9, 2014


(Galau Mahasiswa Tingkat Akhir)

“Galau Mahasiswa Tingkat Akhir”, begitu istilah umum yang sering diungkapkan untuk mengekspresikan perjuangan mahasiswa tingkat akhir dalam meraih gelar sarjana. Tema ini ingin coba saya tuliskan setelah akhirnya bisa menyelesaikan perjuangan tersebut. Tidak lain, agar berbagi pandangan kepada para pembaca dalam melihat sisi-sisi yang ada dalam perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Sekaligus sebagai pengkoreksi beberapa mitos dan pandangan yang berkembang tentang mahasiswa tingkat akhir.

Hal yang pertama yang ingin saya pesankan, Jangan pernah menjustifikasi bahwa semua mahasiswa tingkat akhir yang butuh perjuangan lebih dalam menyelesaikan akademiknya adalah mereka yang tidak beres kuliahnya. Ya, ini bukan bermaksud memberikan pembelaan untuk diri sendiri. Namun, karena memang secara pribadi saya banyak menemui sahabat yang belum selesai perjuangan akademiknya, bukan karena tak beres kuliahnya. Cukup banyak mereka adalah orang yang gemilang secara akademik sejak awal. IPK termasuk yang baik, kompetensi keilmuan diakui bahkan jadi rujukan diskusi oleh mereka yang sudah lulus, dan tidak sedikit yang sebenarnya dari mereka telah mengambil tugas akhir lebih awal dibanding rekan seangkatan.

Lalu, apa sesungguhnya hal yang mempengaruhi sehingga menghadirkan kondisi “Galau Mahasiswa Tingkat Akhir” ? Setidaknya saya mencoba merangkum beberapa poin dari diskusi ringan dengan mereka yang dikategorikan sebagai “Mahasiswa Galau Tingkat Akhir”.

Faktor Internal
1. Galau Kompetensi Menjelang Lulus
Poin pertama ini salah satu alasan yang katanya menjadi kegalauan mahasiswa di tingkat akhir. Terutama mereka yang telah bersentuhan langsung dengan realitas dunia kerja atau profesi. Tidak sedikit yang merasa apa yang diperoleh saat kuliah sangatlah tidak cukup secara kompetensi untuk bersaing ke dunia nyata. Efeknya mereka ingin memperoleh waktu lebih untuk semakin mematangkan diri sebelum benar-benar siap bersaing ke dunia nyata. Bentuk keinginan ini diwujudkan dalam bentuk pengorbanan waktu. Waktu 4 tahun (untuk S1) bagi mereka belum lah cukup untuk mematangkan kompetensi. Ya, kemungkinannya menurut saya ada dua hal, waktu selama 4 tahun itu tidak dimanfaatkan secara baik atau waktu tersebut dimanfaatkan tapi untuk mengembangkan kompetensi lain. 

2. Galau Tanggungjawab Setelah Lulus
Faktor internal ini bisa dibilang faktor galau tingkat dewa, katanya. Efek kebimbangan perencanaan masa depan. Pertanyaan umum yang muncul adalah “Setelah lulus, “Kuliah or Kerja?” Atau ada yang menambahkan opsi “Nikah ?”. Dilema ini lebih kepada kondisi internal yang tidak memiliki perencanaan hidup yang matang. Hal yang harusnya selesai ketika tekad melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi telah ditetapkan sejak awal.   

3. Idealisme Cita-cita
Ketika di tahun akhir terkadang ada nasehat, “Klo sudah ditahun akhir itu jangan terlalu idealis, ntar susah lho”. Nasehat umum dari teman-teman yang telah menjalani proses ini. Memang idealisme itu punya dua sisi mata uang. Salah satu idelisme cita-cita itu antara lain menjadikan tugas akhir sebagai masterpiece saat kuliah. Tidak mau tugas akhir hanya sebagai penggugur persyaratan untuk bisa lulus. Ingin menjadikan tugas akhir sebagai sebuah kebanggaan. Bentuk lain dari idealisme cita-cita itu adalah pantang mundur sebelum bisa “menaklukkan” tema dan dosen. Efeknya benar-benar bertahan dengan tema yang sudah diperjuangkan dan atau bertahan dengan Dosen Pembimbing yang juga butuh perjuangan. Tidak mau berganti tema ataupun berganti dosen pembimbing. Emang ada yang seperti itu? Saya bisa bilang ada dan tidak sedikit yang beridealisme seperti itu. Salah satunya mungkin saya pribadi.
Pesan saya bagi kita yang berprinsip seperti hal ini. Terkadang kita harus proporsional dengan memahami konsep idealitas dan realitas. Konsekuensinya untuk beberapa hal yang mungkin siap dikompromikan. Karena setiap pilihan kita tentu menuntut pengorbanan.

Secara umum, faktor internal ini adalah faktor utama yang sangat menentukan keteguhan dalam fase perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Faktor-faktor diatas memang tidak mencantumkan faktor-faktor remeh bagi saya (malas, dll) yang harusnya sudah selesai saat proses pendidikan sejak tahun awal dijalani. Justru faktor diatas lebih kepada faktor-faktor prinsipil. Yang karenanya faktor-faktor ini haruslah selesai lebih awal sehingga energi lebih bisa dicurahkan untuk menaklukkan faktor eksternal. Bahkan ada yang berujar, “Perjuangan di tahun akhir itu adalah perjuangan menaklukkan diri sendiri”. Maka, Yuk kita kendalikan segala variabel di internal pribadi kita.    




Yk.9.11.2014
14.04 WIB @Wisma Andalusia

Posted on Sunday, November 09, 2014 by Akhdan Mumtaz

No comments