Featured Article
Latest Post

Kamis, 31 Mei 2012

Adab Menghubungi Lewat Telepon

Pertama, Niat yang benar
Hendaknya orang yang menghubungi melalui telpon menghadirkan niat yang benar ketika akan menghubungi orang lain. Sudah seharusnya seorang Muslim meniatkannya untuk mencari pahala. Jika yang dihubungi kedua orangtuanya, niatnya untuk berbakti. Saat menghubungi karib kerabat, niatkan untuk menyambung silaturrahim


Kedua, jangan menghubungi pada waktu-waktu yang tak pantas
Menghubungi melalui telepon hampir sama dengan berkunjung, walaupun agak berbeda sedikit. Hendaklah tak menghubungi seseorang melalui telepon pada larut malam, pagi-pagi buta atau pada saat tidur siang, kecuali dalam keadaan darurat.

Ketiga, hendaknya tak melakukan panggilan lebih dari tiga kali
Bunyi dering telepon sama seperti bunyi ketukan pintu. Menurut sunnah, tak boleh mengetuk pintu lebih dari tiga kali. Maka orang yang menghubungi lewat telepon juga tidak boleh melakukannya lebih dari tiga kali

Keempat, orang yang menghubungi hendaknya mengucapkan salam
Orang yang menghubungi sama kedudukannya dengan orang yang mengetuk pintu. Maka ucapkanlah salam ketika memulai pembicaraan

Kelima, orang yang menghubungi hendaknya memperkenalkan diri
Sesungguhnya orang yang menghubungi sama seperti orang yang mengetuk pintu. Setelah itu, hendaknya orang yang menghubungi lewat telepon mengucap salam dan memperkenalkan diri. Sehingga, orang yang menerima panggilan bisa mengenalinya

Keenam, tak memperpanjang pembicaraan tanpa kepentingan
Ngobrol lewat telepon berlama-lama tanpa kepentingan yang jelas merupakan bentuk pemborosan dan menyia-nyiakan harta. “… Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

Ketujuh, hendaklah orang yang menghubungi adalah orang yang mengakhiri panggilan
Ketika maksud dan tujuan pembicaraan telah tercapai, sebaiknya orang yang mengakhiri pembicaraan adalah orang yang menghubungi. Yakni dengan cara yang baik seperti mengucapkan salam. Sebab kekdudukan orang yang menghubungi sama seperti orang yang bertamu

Petikan wawancara bersama Syaikh Sayyid Nada
Dalam Republika Edisi Dialog Jumat


Idzkhir al-Mu'adz
Yk.31.5.2012



Rabu, 30 Mei 2012

Ketika “Pasca Amanah” Menghampiri


Pasca amanah? Maksudnya apa? Beberapa dari kita mungkin sangatlah tidak asing dengan istilah ataupun benar-benar asing sampai harus melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia. Nah, kita mencoba sedikit membahas hal ini dengan beberapa pengalaman yang sekarang saja jalani.

Pasca Amanah tidak lain ini hanyalah istilah yang dipergunakan untuk mereka yang dahulunya aktif di organisasi atau lembaga namun saat ini telah memasuki masa “pensiun”. Pensiun? Sudah seperti para pegawai saja, hhe. Kurang lebih masyarakat umum dan organisasi mengenalnya dengan pengertian itu. Setidaknya akan ada beberapa fenomena bagi yang mereka yang dihampiri kondisi ini.

FENOMENA 1 “Saat Bertemu Adik Angkatan”
09.00 WIB (Di Mushola)
A : Assalamu’alaikum Mas,
B : Wa’alaikum salam
A : Wah.. Jarang kelihatan sekarang Mas. Sibuk apa sekarang Mas?
B : Hm…
10.00 WIB (Kampus)
X : Wah.. Kok jarang kelihatan di kampus Mas. Udah TA y Mas?
Y : Heh.. TA? Bukan sedang mempersiapkan..
X : Mempersiapkan apa Mas? (sambil senyum-senyum memancing)
X : Hm.. (tidak mau memperpanjang pembahasan)
Ya, faktanya jawaban yang sering dimunculkan hanyalah senyuman. Dan jawaban umum bahwa Insya Allah ada amanah lain yang sedang dijalani.

FENOMENA 2 “Undangan tidak terduga”
Sms A : Mas, bisa ketemuan? Ada yang mau didiskusikan..
Sms B : (melirik jadwal jam itu).. Ok Insya ALLAH
Tiba-tiba masuk SMS lain,
SMS X : Bro, bisa koordinasi bentar terkait agenda kemaren
SMS B : Kapan?
SMS X : Ba’da ashar
SMS B : Hm.. Ok (kok kesannya waktu saya lowong banget ya)

FENOMENA 3 “Pelimpahan Amanah Tiba-tiba”
Saat sebuah tim KK* terkumpul untuk penentuan pengelolaan. Akhirnya disepakati untuk menentukan Ketua kelompok. Dan beberapa lobi terjadi.
A (cwe) : Ayo.. dari yang cowok silahkan siapa yang jadi ketua
B (cwo) : Maaf, kalo saya tidak bisa karena ada kesibukan di organisasi X
C (cwo) : Maaf juga, saya sepertinya tidak bisa karena baru dapat amanah Z
Dan semua pun melirik ke arah D (cwo)
D (cwo) : Wah.. maaf saya tidak bisa karena ada kesibukan juga
A (cwe) : Kalo boleh tahu sibuk apa? Sudah pensiun kan?
D (cwo) : Hm….. (skakmat)

Mungkin beberapa fenomena inilah yang akan sering dialami ketika fase “pasca amanah” lembaga menghampiri. Fenomena ketika perhatian terhadap kita adalah terlihat lebih banyak waktu luang. Padahal biasanya justru waktu yang ada itu sesungguhnya semakin terbatas. Karena sebuah keniscayaan semakin “tua” semakin banyak tanggungjawab. Meskipun secara formal tidak terlihat.

Sehingga pada akhirnya aktivitas yang sering menjadi bagian adalah aktivitas informal. Diluar aktivitas formal yang biasa hadir dilembaga. Maka wajar, undangan-undangan informal, kumpul-kumpul agenda luar, dll lebih banyak datang karena terlihat sangat luang. Atau permintaan tiba-tiba dan diluar dugaan kita. Dari menjadi pemateri, khatib, dll.
Yha.. pada akhirnya, yang patut menjadi perhatian adalah apa yang dilakukan setelah pasca amanah itu menghampiri. Ketika waktu yang terlihat luang itu terisi sesuatu yang tidak bermanfaat maka sangatlah wajar banyak orang bertanya sebagai wujud khawatir terhadap kekosongan waktu kita itu. Ataukah waktu selalu selalu terisi tapi justru disorientasi dari tujuan awal dan semangat disbanding saat ada di organisasi. Maka patutlah kita untuk merenung-merenung dan mengevaluasi diri agar jangan sampai itu terjadi. Ketika akhirnya waktu luang itu jadi kesempatan untuk bisa mengejar ketertinggalan yang mungkin ada saat ada diorganisasi atau lembaga, inilah sebuah perubahan yang besar.

Dan semuanya kembali pada bagaimana kita memahami waktu itu,
“Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemaren maka sungguh dia merugi. Barangsiapa hari ininya lebih buruk dari kemaren maka sungguh termasuk orang yang celaka. Dan sangatlah beruntung orang yang hari ininya lebih baik dari kemaren”.
Terlepas fase yang saat ini kita jalani adalah sedang menjalani amanah lembaga ataukah pasca amanah lembaga sebagaimana yang terlihat. Wallahu a’lam bishowab.


Idzkhir al-Mu’adz
Yk.29.5.2012


Kamis, 24 Mei 2012

Banyak Orang Mengaku Cinta


“Sejumlah pemuda mengaku mencintai Laila,
tapi Laila sendiri tidak mengakui ada 1 pun yang mendekati”
(Syair Arab)

          Syair ini menjadi pembuka untuk menyikapi sebuah fenomena yang sering hadir pada diri kita. Fenomena mengakui dan menisbatkan pada diri sendiri. Mengakui sesuatu yang boleh jadi semua orang mengharapkan pengakuan itu. Padahal bisa jadi pengakuan itu belum tentu benar sebagaimana apa yang diakui.

          Nabi Muhammad saw menyatakan, “Umatku akan terpecah atas 73 milah, semuanya akan berada didalam neraka kecuali 1 milah. Yakni milah yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat”. Sebuah pernyataan yang barang tentu menjadi kekhawatiran bagi diri kita. Apakah kita termasuk 1 milah yang dinyatakan Rasulullah tersebut. Apakah kita memang benar menjadi barisan yang Allah selamatkan nanti. Sehingga setiap kita tentunya termotivasi untuk menjadi bagian dari 1 milah itu.

          Akan tetapi, menjadi sebuah kekhilafan ketika akhirnya 1 milah tersebut menjadi sebuah nisbat dan klaim diri. Bahwa sebuah kelompok/golongan adalah pemilik tunggal dari pernyataan 1 milah Rasulullah dan para sahabat. Sehingga mereka yang berada diluar kelompok atau golongan itu menjadi bukanlah bagian dari 1 milah yang Rasulullah nyatakan. Dan sungguh ini sebuah kekhilafan yang besar. Karena 1 milah yang Rasulullah nyatakan bukanlah sebuah klaim diri yang tersemat di nama sebuah kelompok atau golongan. Melainkan 1 milah itu adalah esensi dari apa yang Rasulullah nyatakan.

          Dampak dari ini adalah boleh jadi kita mengaku diri sebagai 1 milah itu, akan tetapi apakah Allah mengakui. Layaknya syair Arab dipembuka tulisan ini nyatakan, “Sejumlah pemuda mengaku mencintai Laila, tapi Laila sendiri tidak mengakui ada 1 pun yang mendekati”. Sehingga patutlah kita berwaspada jangan-jangan klaim kita sebagai yang mendekati Rasulullah dan para sahabat justru tidak diakui oleh Allah dan Rasul-Nya saat kita dipertemukan di yaumul akhir nantinya. Sehingga yang patut kita lakukan adalah sama-sama berpacu dalam  melodi kebaikan. Membuktikan bahwa diri kita memang merupakan bagian dari 1 milah itu.

Banyak orang mengaku cinta,
Tapi hanya Allah-lah yang Maha Tahu
Siapa yang benar-benar cinta
Yk.22.5.2012
Idzkhir al-Mu’adz     

Jumat, 11 Mei 2012

Disini, Tidak Hanya Kita yang Merasa Lelah


Rasa lelah mungkin merupakan salah satu beban yang memberatkan langkah kita, dalam upaya melanjutkan kehidupan, mengejar cita-cita, memperjuangkan kebahagiaan. Rasa lelah mungkin menjadi tersendiri yang sering mengendurkan semangat kita untuk terus berbuat dan bekerja. Karena, rasa lelah tentu saja membuat ketidaknyamanan bagi fisik, jiwa dan pikiran kita, yang selalu harus dalam kesegerannya menemani kita melangkah.

Kelelahan adalah sunah kauniyah, tradisi alamiah. Tabiat kehidupan. Dan menjadi sebuah siklus. Ia punya jadwalnya untuk datang. Ia punya waktunya untuk hadir. Dalam lingkaran perjalanan kita yang terus berputar ke depan, rasa lelah punya saatnya untuk menghampiri kita. Dan tak seorang pun dari kita yang benar-benar terbebas dari rasa lelah.

Lelah itu datang dalam usaha-usaha individu. Menjalankan amanah, mengurus keluarga, mencari nafkah, menjalani tugas-tugas kerja kita. Namun lelah juga menimpa kita dalam kerja-kerja kita meneruskan perjuangan Rasulullah saw menyebar rahmat, memberi pencerahan, menyerukan kebenaran kepada manusia untuk menjadikan Islam sebagai tuntunan kehidupan yang menyelamatkan.

Dan untuk medan yang satu ini sungguh sangatlah luas. Tapi tidak kita seorang. Medan ini sangat terjal, tapi kita tidak sendiri. Disana ada banyak orang, yang saling berlomba mendapatkan kemuliaan dari Allah dijalan ini. Tetapi karakter kehidupan disini memang sangat melelahkan. Tantangannya selalu berat, godaannya senantiasa memikat. Meski rintangan mungkin tak seberat yang dialami oleh para pendahulu kita dizaman lalu, namun tetap saja melelahkan dan terasa sepi. Sebab itu, banyak penyeru kebenaran yang berguguran disini karena tak tahan dengan lelahnya mengarungi perjalanan.

Menarik diri dari medan ini, itulah yang kita sebut futur, sebuah penyakit yang menyerang sebagian ahli ibadah, da’i dan penuntut ilmu. Sehingga menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melalukan aktivitas kebaikan yang sudah ia tekuni.

Kehadiran penyakit ini terjadi karena banyak faktor. Ada yang karena tak kuasanya menanggung lelah menanti hasil menggembirakan dari medan ini. Apalagi ketika kelelahan menghadapi rintangan tak juga menampakkan hasil. Sehingga kita berkecil hati dan kecewa. Adapula karena semakin lemahnya pemahaman dan keikhlasan. Bahwa jalan ini bukan untuk mencari kekayaan materi, popularitas, pangkat dan jabatan. Sehingga ketika kelelahan tidak dibarengi dengan kesejahteraan yang meningkat, memunculkan kekecewaan yang membuat keikhlasan berbuat menjadi semakin terkikis. Padahal semuanya semata-mata kita lakukan untuk kemuliaan disisi Allah swt.

Rasa lelah itu memberikan kita kesadaran tentang bagaimana kita sebagai manusia sangat rentan dengan rasa lelah. Sehingga membuat kita paham. Bahwa betapa Allah Maha Sempurna karena Dia tidak pernah lelah. Bahwa sehebat apapun, kita tidak bisa menjangkau semua hal. Sepandai apapun kita, ada jeda dan istirahat yang harus kita ambil, untuk menyegarkan fisik dan meredakan tekanan hati maupun pikiran. Kita manusia, kita punya lelah. Sehingga kita sadar betapa ketergantungannya kita kepada Allah yang Maha Perkasa lagi tidak pernah lelah.

Kesadaran tentang betapa tidak berdayanya kita untuk tertimpa rasa lelah juga lah yang membuat kita paham. Paham tentang keniscayaan kerasulan kepada Nabi Muhammad saw. Bahwa rasa lelah benar-benar menjadi bagian penting dari risalah Islam yang dibawanya. Rasulullah dengan jerih payah dan rasa lelahnya membimbing umatnya. Sebagaimana yang dikabarkan hadits, “Sesungguhnya orang yang paling berat beban dan ujiannya adalah para Nabi”. Atas perjuangan dengan rasa lelah Rasulullah itulah kita akhirnya mengenal Islam, mengenal Allah dan tahu kemana jalan yang harus kita ambil.

Oleh karena itu, ketika rasa lelah itu hadir dan menimpa, kita harus tegar dan tegap melangkah. Tak memperdulikan kelelahan yang selalu datang menyergap itu. Sebab kelelahan itu hanyalah jebakan siklus yang akan menghambat kita menemukan keberhasilan yang kita cari.
Selanjutnya kita berharap bahwa Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu diberi kemudahan melalui siklus-siklus kelelahan itu, untuk mewujudkan cita dan harapan kita.

“Mencari yang halal seperti para pahlawan yang berlaga dimedan perang membela agama Allah. Barangsiapa tidur malam harinya karena ‘lelah’ mencari rezeki yang halal pada siang harinya, maka dia tidur pada malam harinya dengan mendapatkan keridhaan Allah” (HR Baihaqi)

“Tak akan ada kesenangan bagi yang tak punya kehendak kuat. Tak ada kesenangan bagi yang tak punya sabar. Tak ada karunia kenikmatan bagi yang tidak bersusah-susah. Tak ada kebahagiaan bagi yang tak berlelah-lelah” (Ibnu Qayyim)



Yk.11.5.2012

Idzkhir al-Mu’adz


*Disarikan dari beberapa tulisan
Ust. Ahmad Zairofi & Ust Sulthan Hadi
dalam Tarbawi edisi “Rasa Lelah Hanya Siklus, Lalui Saja”

Senin, 07 Mei 2012

22.22.22


Tiga frase angka tersebut adalah pesan rahasia yang diminta oleh 4 orang Rangers kepada saya. Pesan rahasia yang mungkin berhubungan dengan angka yang akan melekat disetiap biodata saya pada tahun ini, 22 tahun. Hal yang mungkin tidak terasa dari sebuah perjalanan waktu dan hidup kita. Ketika ternyata makin banyak yang menyebut dengan panggilan “Pak”. Padahal rasa-rasanya masih terlalu muda untuk dipanggil “Pak”. Sampai salah seorang rekan bilang, “Nyadar id, ente tuh sekarang udah tua, pantes banyak yang manggil bapak, maklumlah angkatan09”. Yap, mungkin memang benar adanya, berada pada tahun ketiga dikampus setidaknya menjadikan kita sebagai “orang tua” bagi angkatan muda.     

Akan tetapi, semoga makna tidak terasanya pergerakan waktu ini bukan sebagaimana yang Rasulullah katakan tentang salah satu tanda kiamat adalah ketika waktu itu terasa begitu cepat tanpa terasa sedikitpun.

Pesan ini adalah sebuah pesan untuk membuka sebuah bingkisan ukuran 40x50 cm pada jam 22.22.22 WIB. Akan tetapi, juga memohon maaf juga kepada 4 orang rangers karena pada akhirnya baru bisa membuka bingkisan itu pada jam 2.22 WIB menjelang waktu Subuh. Sebuah bingkisan yang berisikan beberapa pesan dan pengingat tentang perjalanan dan orientasi hidup ini. Terimakasih atas nasehat dan bingkisannya. Jujur sampai sekarang masih berpikir bagaimana ceritanya kalian menyusun dan membuat bingkisan itu?

                                           Glosary:
Rangers : panggilan yang disematkan kepada kami, Keluarga Tim Kaderisasi Keluarga Muslim Teknik X4 (Idriwal-Tito-Naba-Lina-Umi). 

Senin, 30 April 2012

Apa Salahnya Jadi Pegawai


Tulisan ini saya repost untuk memperluas sudut pandang kita dalam berbagai macam hal dalam setiap aktivitas. Sekaligus sebagai "penyeimbang terhadap propaganda berwirausaha" sebagaimana yang dinyatakan oleh penulisnya, Mas Yulian Anindito.

Saya sering mendengar di forum-forum, resmi maupun informal, diskusi tentang wirausaha. Biasanya akan ada satu orang yang mengompori untuk jadi wirausaha. Dengan semangat berapi-rapi mereka akan menerangkan atau lebih tepatnya mendoktrin betapa “wah”-nya berwirausaha. Diskusi terakhir yang seperti ini saya temui seminggu lalu, di masjid kampus UI, Depok.

Entah kenapa kali itu saya sedikit tersinggung. Mungkin karena capek setelah perjalanan jauh sehingga jadi sensitif. Kata-kata yang digunakan memang bertujuan untuk memotivasi semangat entrepreneurship. Saya sangat menghormati mereka yang menempuh jalan itu. Tapi secara bersamaan, kata-kata itu juga merendahkan profesi pegawai. Mungkin tulisan ini subyektif defensif karena saya adalah seorang pegawai, namun agaknya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap “propaganda” berwirausaha.

Sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah dagang, dengan kata lain; wirausaha. Wirausaha memungkinkan keuntungan yang tidak terbatas. Sedangkan jadi pegawai penghasilannya tetap, rejekinya segitu-segitu saja. Orang tidak bisa kaya kalau jadi pegawai. Tapi ini hanya jika profesi dihubungkan dengan rejeki. Menjadi pegawai tidak menjanjikan keuntungan melimpah, uang banyak. Namun mari melihat dari sisi lain.

Menarik apa yang disampaikan salah satu Vice President di perusahaan kami hari ini. Seorang karyawan bertugas mengatur perputaran penggunaan landing gear pesawat terbang. Karena dia pesawat bisa beroperasi dengan baik, landing dan take off dengan selamat. Orang-orang naik pesawat, dalam rangka bisnis, silaturahim, belajar, dan sebagainya. Berkat jasanya, maka seorang pebisnis bisa menjalankan bisnisnya dan mendapat keuntungan. Orang lain bisa bersilaturahim dan merekatkan pertemanan.

Guru juga pegawai. Gajinya kecil, sehingga hidupnya pas-pasan. Tapi lihatlah dia bisa berbagi ilmu, mendidik anak muridnya. Berkat jasanya, murid-muridnya jadi punya masa depan. Setelah lulus mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan, bisa bekerja, menikah, memiliki anak, dan bisa menjalani hidup mereka dengan baik. Diantara mereka mungkin ada yang jadi orang besar. Penghargaannya bukan berupa materi, tapi kebanggaan dan ilmu yang pahalanya tidak pernah putus.

Bagaimana pula dengan pegawai yang berpikir bahwa dengan menjadi pegawai negeri misalnya, dia jadi punya lebih banyak waktu untuk melakukan hal lain. Daripada harus berjibaku siang-malam menjadi wirausaha, menghabiskan pikirannya untuk memikirkan untung-rugi. Dia hidup sekedarnya dari gaji, namun punya banyak waktu untuk mendidik anak-anaknya. Memiliki banyak waktu bersama mereka, sehingga bisa mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya dengan lebih intensif.

Ada juga yang menjadi pegawai dengan tujuan ingin memperbaiki institusi tempatnya bekerja. Di badan usaha milik negara misalnya. Dia sadar bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah salah satu penyokong perekonomian negara. Padahal banyak praktek-praktek tidak sehat di sana. Dia ingin bekerja di sana, agar menempati posisi strategis, sehingga bisa memperbaiki dari dalam. Orang ini layak diberi gelar mujahid, melawan keburukan yang akan mengakibatkan kehancuran.

Seorang dokter yang jadi pegawai rumah sakit karena ingin menolong orang-orang. Seorang insinyur yang menjadi pegawai pabrik karena ingin memperbaiki lini produksi sehingga perusahaan bisa berkembang dan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang. Seorang mekanik listrik yang berkat dia, anak-anak bisa belajar dengan diterangi lampu saat malam. Seorang masinis yang mengantarkan ratusan orang setiap hari dengan keperluan mereka masing-masing.

Jadi apa salahnya jadi pegawai? Selama kita memiliki alasan yang baik dalam menjalani sebuah profesi, maka profesi apapun bisa menjadi jalan kemuliaan. Selama kita menjalaninya dengan ikhlas, bisa jadi itulah pembuka pintu surga bagi kita.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah 105) 

Senja Utama Jogja, 16 Maret 2012
Anindito W

Source :
https://www.facebook.com/notes/yulian-anindito/apa-salahnya-jadi-pegawaai/10150688573183637

Jumat, 27 April 2012

Keadilan & Kesetaraan Gender Dalam Islam?

    Dewasa ini, Rancangan Undang-undang Kesetaraan Gender sedikit mulai menjadi pembahasan. Meskipun pembahasan ini bisa dinyatakan hanya menjadi diskusi oleh segelintir orang. Hal yang sangatlah mafhum dikarenakan hanya sedikit dari kita yang memahami apa sesungguhnya yang terjadi dengan rancangan undang-undang ini. Tulisan ini mungkin tidak membahas terkait hal apa yang ada dalam rancangan undang-undang tersebut. Akan tetapi, tulisan ini lahir akan sebuah sorotan ketika kata “keadilan dan kesetaraan gender” dimunculkan. Secara tersirat, kata ini seperti mempertanyakan apakah sesungguhnya memang tidak ada keadilan dan kesetaraan gender. Dan seperti apakah bentuk keadilan dan kesetaraan gender yang dimaksud. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba menilik bagaimana sesungguhnya pandangan keadilan dan kesetaraan gender dalam Islam.


        Kita memulai pemahaman ini dengan sebuah pertanyaan, Bagaimanakah sesungguhnya perempuan itu diperlakukan didalam Islam?
Dalam perjalanan hidup Rasulullah saw, kurang dari hitungan usia satu generasi. Ajaran yang buruk, cara pandang yang salah, perlakuan yang buruk, perlakuan yang tidak adil itu telah berhasil diperbaiki.

Pada masa Jahiliyah, perempuan itu nyaris tidak memiliki nilai. Bagaimana tidak, seseorang yang mendengar istrinya melahirkan seorang anak perempuan akan sangat kecewa sekali. Sehingga mereka sangatlah mampu dan tega untuk mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Kebodohan seperti apa, kezaliman seperti apa yang dapat kita bayankan terjadi pada seseorang sehingga mampu melakukan hal itu.
Bahkan seorang perempuan bisa dijadikan taruhan untuk berjudi, bisa dijadikan alat jual beli dan untuk mencari nafkah dengan jalan menjadi “barang jualan”. Dan dengan kedatangan Islam, semua ini DIRUBAH. BERUBAH TOTAL. Bahkan sekedar untuk memberlakukan untuk membedakan antara anak laki-laki dan perempuan.
Sebagaimana diriwayatkan ketika Rasulullah saw bertamu ke rumah seorang sahabat. Betapa masih terdapatnya sisa-sisa Jahiliyah yang tertanam pada diri masyarakat Arab. Begitu datang anaknya yang perempuan, sahabat ini mengacuhkan anaknya. Hal yang berbeda ketika datang anaknya yang lelaki. Sahabat itu langsung memangku anak lelakinya tersebut. Sehingga Rasulullah menegur sahabat itu dengan keras perilaku seperti itu.

Pada masa jahiliyah, seorang perempuan, jangankan meminta, memiliki kesempatan untuk berbicara saja nyaris tidak ada. Akan tetapi, pada masa Rasulullah seorang perempuan bisa berdiri dihadapan Rasulullah saw dan dihadapan para sahabat laki-laki yang lain. Berdiri dan mengucapkan pernyataannya dengan lantang.

Beliau adalah sahabiyah yang bernama Asma’ binti Yazid Al-Anshary datang sebagai utusan kaum muslimah untuk menyampaikan beberapa hal. Yang pernyataannya bernada protes. Dia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau diutus kepada kami semua, kaum laki-laki dan perempuan. Maka kamipun beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Tetapi kami, kaum perempuan merasa dibatasi. Lal menghadp kepada laki dan berkata, Bagi engkau kaum lelaki, memiliki kelebihan dibanding kami. Melakukan ibadah jumat, dalam hal menjenguk orang sakit, haji berkali-kali dan jihad fi sabilillah. Akan tetapi kami merasa terbatasi. Kami melayani hajat kalian, kami menjaga kehormatan kalian, kami mengandung anak kalian, kami melahirkan anak kalian, kami mendidik mereka, kami menjaga rumah kalian, kamilah menjaga kehormatan keluarga kita. Ya Rasulullah, apakah yang dapat kami lakukan agar kami mampu mendapatkan PAHALA yang SAMA dengan pahala kaum laki-laki.  

Maka Rasulullah sebelum menjawab menoleh kepada sahabat dan berkata “Adakah ucapan seorang perempuan sebelumnya yang lebih baik dari ini?”
Artinya pernyataan ini dipuji. Bayangkan pada zaman Jahiliyah, jangankan berbicara dihadapan laki-laki, mereka tidak memiliki arti. Akan tetapi, pada masa Rasulullah, perempuan mampu menyampaikan secara terbuka.

Rasulullah menjawab, “Dengarlah olehmu wahai Asma’ dan sampaikan kepada seluruh kaum perempuan. Sesungguhnya taatnya seorang istri kepada suami dirumahnya dengan menjalankan semua kewajibannya. Dan itu dilakukan sebagai bentuk karena ridho dan menerima hak-hak suami karena ketentuan syariat. Maka sesungguhnya bagi mereka pahala yang sama dengan pahala yang diperoleh oleh para suami mereka yang keluar rumah untuk menunaikan kewajibannya. Akan tetapi, sesungguhnya sangat sedikit sekali dari kalian yang mau menjalankan hal ini.”

Akan tetapi, apakah Rasulullah lantas hanya mengurung para istri itu didalam rumah? Maka jawabannya adalah TIDAK sebagaimana pandangan umum kita yang tidak paham.
Rasulullah Saw masih memberi kebebasan kepada kaum perempuan. Salah satunya dalam menuntut ilmu. Saat pernah datang lagi seorang sahabiyah kepada Rasulullah untuk keduakalinya. Dan berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kaum laki-laki bisa secara bebas datang ke majelismu sehingga mereka mendapatkan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Tetapi kami, tidak memperoleh kesempatan itu.  Maka sediakanlah Ya Rasulullah untuk kami, satu waktu ddari waktu-waktumu untuk bisa berkumpul dan mendatangi majelismu. Agar kami juga mendapat pelajaran dari apa yang Allah ajarkan kepadamu”. Rasulullah pun menjawab, “Baiklah, datanglah kalian pada hari ini dan pada hari ini”.

Bayangkan! Ketika yang diminta hanya satu waktu, Rasulullah justru memberikan dua waktu.

Dari beberapa cuplikan perjalanan sejarah Rasullah ini, dapat kita pahami. Betapa Allah telah mendudukan nilai tentang diagungkannya kaum perempuan itu. Sehingga seorang sahabat pernah bertanya, “Ya Rasulllah siapakah manusia yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari diriku?”. Rasulullah pun menjawab, “Ibumu”. Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi Ya Rasulullah?”. “Ibumu”. Hingga pernyataan dan pernyataan ini sampai diulangi tiga kali, “Ibumu, Ibumu, Ibumu”.

Hal yang sangat berbeda ketika masa Jahiliyah, dimana seorang ibu seperti tidak memiliki hubungan apa-apa dengan seorang anak. Kecuali ibunya merupakan orang yang terpandang dan bangsawan.

Hal yang tidak jauh berbeda tidak kurang  dari satu generasi sejak masa Rasulullah saw. Yakni pada masa kekhalifan Umar ibn Khatb. Ketika beliau sebagai Amirul Mukminin baru berpulang dari perjalanan dari negeri Syam. Beliau melewati jalan yang berbeda dan menemukan seorang perempuan tua renta, cacat lagi miskin tinggal disebuah gubuk. Nenek itu berkata, “Wahai fulan, apakah Amirul Mukminin sudah pulang?”. Pertanyaan nenek itu kepada Umar tanpa tahu siapa yang berada dihadapannya. Umar pun menjawab, “Amirul Mukminin telah pulang dengan selamat.” Nenek itu pun berkata, “Tidak,… Semoga Allah membalasnya tidak dengan keselamatan.”

Mendengar bantahan ini Umar pun tersentak dan kemudian bertanya, “Wahai ibu mengapa engkau berkata demikian?”. “Ketahuilah, apakah engkau tidak melihat bagaimana diriku. Seorang yang tua renta, cacat dan miskin. Aku hanya mengandalkan bantuan dari tetangga-tetangga. Sejak ia memimpin hingga saat ini, Umar ibn Khatb belum pernah memberikan bantuan kepadaku”.

Mendengar ucapan ini, Umar mencoba untuk mengemukakan alasan. “Wahai Ibu, Barangkali Amirul Mukminin tidak mengetahui keadaanmu, atau mungkin tidak ada yang menyampaikan keadaanmu. Ibu itu pun menjawab dengan kesal, “Bagaimana ia bisa tidak tahu keadaanku, Bukankah ia itu adalah Amirul Mukminin”.

Umar pun menangis dan berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai Umar, alangkah lebih baiknya engkau tidak dilahirkan oleh ibumu”

Bagaimana seorang perempuan tua bisa didengar pernyataannya pada hari itu. Jangankan didengar, dilihat saja tidak ketika masa Jahiliyah. Apalagi oleh seorang pemimpin Negara.
Hingga Umar pun berkata, “Kalau begitu, berapa harga kezaliman Umar ibn Khatb kepadamu? Aku akan membayarnya. Berapapun”. Perempuan itu menjawab, “Engkau jangan menghinaku. Apakah engkau sanggup membayar kezaliman Umar”. Perempuan itu tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah Amirul Mukminin. Hingga sahabat Ali ibn Abi Thalib dan Abdulullan ibn Mas’ud lewat dan memanggil Amirul Mukminin. Ibu pun tersentak karena tidak menyangka bahwa yang dihadapannya adalah Amirul Mukminin. Namun, Umar tetap memohon dan berkata “Tidak Wahai Ibu, Engkaulah yang paling berhak.” Serta membayar nilai kezaliman kepada sang ibu dengan maaf dari sang ibu serta menuliskan pada selembar kain bahwa sang ibu telah memaafkan kezaliman Umar ibn Khatb sejak dia menjadi khalifah hingga ia menghadap Allah swt.          

Dari beberapa perjalanan dan sejarah ini sesungguhnya dapat disimpulkan. Bahwa didalam Islam, perempuan itu sangat dihormati. Maka bagaimana mungkin sebuah kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan itu dipertanyakan. Karena sesungguhnya Islam telah memuliakan kaum perempuan itu sendiri. Semoga Allah memberikan petunjuk dan sifat kehati-hatian pada diri kita. Terutama terhadap segala pemutarbalikan fakta tentang makna keadilan dan kesetaraan gender itu sendiri.
Wallahu a’lam bi shawab
Idzkhir Al Mu’adz
Yk.27.4.2012
19.57 PM

*dirangkum dari Khutbah Jum’at pada hari ini
oleh Ust Ahmad Arif Rif’an



Popular Posts