Tuesday, March 28, 2017

Selama beberapa waktu belakangan ini saya mendapatkan diskusi tentang pilihan-pilihan seorang mahasiswa yang pasca kampus. Diskusi ini menarik perhatian saya, karena saya pernah menjalaninya dan merasakan pilihan-pilihan tersebut. Namun, saya melihat fenomena pilihan ini sering terpengaruh oleh kepada siapa seseorang mendiskusikan pilihan pasca kampus. Mungkin karena secara subjektif melihatnya begitu. Pada tulisan ini, saya mencoba membatasi pilihan tersebut kepada Kuliah (lagi) atau Kerja. Meskipun ada alternatif pilihan ketiga, Menikah.

Dialog

A : Jadi apa rencanamu paska lulus ini Bro A? Kuliah atau Kerja?
B : Belum tahu, rencana sih kerja. Tapi lihat kondisi dulu lah. Peluang beasiswa sepertinya banyak. Mungkin bisa dicoba juga.
A : Iya. Mending lanjut kuliah j. Sayang tu peluang beasiswa yang banyak. Tinggal nyiapin berkas j.
C : Eh.. Bro, mending kerja dulu j. Ndak sayang tu, gelar akademik lulusan kampus ternama, peluangnya juga tidak kalah banyak. Kerja dulu, setelah itu bisa lah lanjut kuliah lagi. Apalagi nanti sudah punya pengalaman.  
A : Tapi bukannya kalau kita kuliah lagi, bisa meningkatkan peluang dan daya tawar kita Bro. Gaji lulusan S2 lebih lah dari lulus S1.
C : Lha,. emang berapa banyak penerimaan lulusan S2 Bro. Kan tidak banyak. Klo S2 paling ujung-ujungnya jadi dosen.
B : Apa aku coba dua-duanya j Bro. Serangan ke segala arah. Yang mana yang lebih duluan, itu yang aku lanjut.
A & C : ?????

Lingkungan Diskusi

Dari ilustrasi dialog diatas bisa tergambar bagaimana pilihan-pilihan seseorang dan hal yang mempengaruhinya. Ketika seseorang berdiskusi dengan orang-orang yang menjalani pilihan kerja, maka kecenderungan pendapat yang umum saya lihat adalah “lebih baik” bekerja dulu. Mengapa? Karena kalau pun lanjut kuliah lagi, endingnya tetap akan sama setelah lulus. Kuliah atau Kerja. Pendapat ini akan diperkuat dengan argumentasi, fenomena kuliah lagi hari ini itu ibarat tren dan hanya sebagai alternatif pelampiasan ketika tidak ada pilihan lain. Begitu lah keumuman arah diskusi yang sering saya dengar.

Hal yang kurang lebih sama ketika berdiskusi dengan yang mengambil pilihan kuliah lagi. Daripada bingung dengan ketatnya persaingan saat ini. Lebih baik meningkatkan nilai tawar dengan menambah gelar. Peluang beasiswa banyak, maka lebih baik mengambil peluang ini. Di masa depan, lulusan S2 ibarat kacang goreng lho, persaingannya bukan dengan sesama lulusan S1 lagi, tapi sudah S2. Begitu seterusnya siklus diskusi ini saling menguatkan dan melemahkan antara berbagai pilihan ini.  

Dialog dua pendapat ini juga akan berbeda sudut pandangnya dengan obrolan bersama mereka yang bekerja bertahun-tahun. Tidak sedikit yang sudah bekerja berkata kepada mereka kepada mereka yang sedang kuliah lagi, “Wah... enak ya bisa belajar lagi, saya bekerja seperti tidak ada hentinya. Sehingga seolah terjebak di 24 jam waktu sehari untuk bekerja”. Padahal di dialog lain, mereka yang kuliah akan berkata, “Keren ya teman-teman yang bekerja, merasakan dunia profesional, bekerja dengan gaji yang mentereng. Cukup lah klo mau memenuhi kebutuhan, dll”. Rumput tetangga selalu akan lebih rimbun dan hijau untuk diskusi yang tidak pernah selesai ini.


Pilihan

Lalu bagaimana kita menyikapi dan menentukan pilihan terhadap beberapa hal ini? Menurut saya, kata kuncinya adalah VISI dan MOTIVASI hidup kita. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW menasehatkan terkait segala sesuatu tergantung niatnya.

Maka pertanyaannya adalah “Apakah VISI dan MISI hidup kita?”. Atau mungkin lebih tepatnya malah “Apakah kita memiliki VISI MISI hidup?”. Maka saya salut kepada banyak rekan-rekan yang telah memiliki VISI MISI yang terwujud dalam RENCANA HIDUP sejak awal menjalani kuliah. Sehingga mereka menjalani garis hidup sesuai dengan rencana tersebut untuk kemudian menyesuaikan realitas dalam dinamika perjalanan tersebut. Maka kalau lah kita belum memiliki rencana hidup pasca lulus karena sebelumnya menjalani hidup bagai air dan alur saja, saat SEKARANG memilikinya.

Dengan rencana hidup maka kita akan memiliki arahan yang jelas dalam menjalani kehidupan pasca kampus. Tidak terlalu lama terjebak dalam pertanyaan, “Mau apa kita?”. Yang berencana menjadi profesional keahlian tertentu mungkin memilih untuk bekerja terlebih dahulu dalam rencana waktu terukur yang sudah direncanakan, untuk kemudian melanjutkan studi mengembangkan keahlian profesionalnya. Yang merencanakan menjadi pengusaha, telah menetapkan sejak awal untuk merintis dan menjalanan usaha sehingga tidak ikut arus pencari kerja pasca lulus. Kalau pun bekerja, memilih alternatif pekerjaan yang tetap memungkinkan untuk menjalankan usaha tanpa melalaikan amanah pekerjaannya. Dan begitu banyak bentuk-bentuk rencana berdasarkan rencana hidup tersebut.

Hanya dalam pengalaman saya, salah satu hal penting yang juga patut untuk dipertimbangkan adalah JANGAN pernah menutup pintu untuk segala alternatif pilihan. Tidak sedikit bertemu dengan mereka yang pada awalnya memilih bekerja, untuk kemudian saat bekerja lah pilihan untuk menjadi akademisi menguat dan mengalihkan pilihan hidupnya. Begitu pun sebaliknya. RENCANA ibarat senter untuk menempuh perjalanan ke depan. Dalam perjalananannya bisa jadi ada cahaya lain yang membantu kita menempuh perjalanan menuju tujuan.

Maka setelah alternatif-alternatif pilihan kita pahami, dengan rencana hidup Kita tetapkan kembali CITA-CITA hidup masa depan dan bagaimana kita mengakhiri hidup kita. Kalau lah dalam menyusunnya kita butuh berdiskusi maka lengkapilah diskusi secara seimbang dari berbagai pilihan yang ada. Sehingga kita bisa menetapkan pilihan dengan baik. Dalam pengalaman saya, tempat diskusi yang cukup baik adalah mereka yang telah memiliki pengalaman  hidup lebih daripada kita.

Penutup 

Rencana hidup itu ibarat proposal hidup kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu, saat menentukan pilihan, nasehat penting bagi kita adalah SELALU libatkan ALLAH SWT dalam pilihan-pilihan kita. Dari orientasinya hingga  akhirnya saat menetapkan pilihan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang baik dan buruk bagi diri kita kecuali SEMUA dalam ilmunya Allah SWT. Oleh karenanya, do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam istikharah adalah

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa. Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahuinya. Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik dalam agamaku, kehidupanku dan akibatnya terhadap diriku”

Semoga Allah SWT meluruskan niat-niat dalam rencana hidup dan memberi petunjuk kepada kita dalam pilihan-pilihan yang ada. Wallahu a’lam bi shawab.


Dago, 28 Maret 2017
~akhdan mumtaz

Posted on Tuesday, March 28, 2017 by Idriwal Mayusda

No comments

Tuesday, January 17, 2017

“All is relative” (Semua adalah relatif), kata Michael Fackerrel. Kalimat ini mungkin telah menjadi slogan umum saat ini. Slogan yang seolah enak didengar. Baik buruk, salah benar, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Tergantung siapa yang menilainya. Slogan relativisme ini sebenarnya telah menjebak cara pandang kita. Padahal slogan ini lahir dari kebencian. Kebencian terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Kebencian terhadap agama.

Tidak lanjut dari kebencian ini adalah ingin menguasai agama-agama. Logikanya, untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain. Sehingga untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Maka lahirlah teologi-teologi baru yang mengikat. Doktrin teologi pluralisme agama lebih tinggi dari agama-agama. Maka, nama Tuhan pun menjadi global. Sehingga diciptakan nama tuhan baru, The One, Tuhan semua agama. Bagaimana konsepnya? Tidak jelas betul.

Karena “Semua adalah relatif”, maka kerangka berpikir yang muncul adalah “Berpikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda, belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif. Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran.

Jadi, merasa benar menjadi “makruh”, dan merasa benar sendiri tentu “haram”. Maka jangan heran ketika ada selebritis dengan emosi dan marah berkata, “Semuanya benar dan harus dihormati”. Yang  membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing!

Sadar atau tidak, dengan berbagai pernyataan itu kita sesungguhnya sedang mengikuti ayat-ayat setan Nietzsche. “Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar, orang lain juga berhak mengklaim itu salah”, kata Nitetzsche.

“Semua adalah relatif”, slogan ini selanjutnya akan mengarah menjadi kesimpulan “Disana tidak ada kebenaran mutlak”. Kebenaran, moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka. Sebuah pernyataan yang tidak logis karena itu pun berarti pernyataan itupun nilainya relatif, tidak absolute.

Slogan “Semua adalah relatif” pun kemudian punya alasan baru “Yang Absolute hanyalah Tuhan”. Aromanya Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Pernyataan ini menjebak karena dengan konsekuensi yang benar hanyalah Tuhan maka Al Qur’an yang diwahyukan, Hadis yang disabdakan Nabi, ijtihad ulama dan sebagainya adalah relatif belaka.

Padahal Allah berfirman al haqq min rabbika (dari Tuhanmu) BUKAN ‘inda rabbika (pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu” berarti berasal dari sana dan sudah disini dimasa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Thomas F. Wall pun, menyatakan percaya Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya kalau tidak percaya Tuhan. 
Benarlah pepatah “Manusia itu musuh bagi apa yang tidak diketahuinya”.

*diringkas dari tulisan Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi dalam buku Misykat halaman 154

Posted on Tuesday, January 17, 2017 by Idriwal Mayusda

No comments

Saturday, January 23, 2016

Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan
(Kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan)

           
Bait-bait diatas adalah falsafah adat Minangkabau perihal kabar baik dan kabar buruk. Dimana kabar baik bagi orang Minangkabau harus dihimbau (diundang) sedangkan kabar buruk sesuatu yang didatangi tanpa undangan sehingga kita datang berhamburan. Nah, sebagai orang Minang saya senantiasa memegang prinsip ini. Apalagi prinsip ini sangat sesuai dengan sabda tauladan utama, Rasulullah SAW,
Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan, pen), penuhilah.” (HR. Muslim) 
Akan tetapi, dalam menjalani prinsip ini di keseharian perantauan terdapat sedikit perbedaan pandangan tentang hal ini. Terutama dalam memahami undangan kabar baik.

Pengalaman 1
A : Bro, kamu berangkat kan ke nikahannya Mas Fulan?
B : Ada undangannya tidak Bro? Klo ada undangannya ikutan. Insya Allah
A : Lha, emang masalahnya apa. Kan kita dapat infonya, mungkin saja ada atau dia lupa. Toh, yang nikah kenal akrab sama kita.
B : Hm.... ?#$%

Pengalaman 2
A : Habis darimana bro?
B : Ini baru balik dari nikahannya Mas Fulan. Lha.. kamu kok nggak ikut? Tahu infonya tho?
A : Hhe.. iya tahu. Tapi itu kan info dari orang kesekian. Resminya kan nggak dapat undangan.
B : Nggak masalah kali bro. Sebagai teman akrab ya baiknya kita datang. Mungkin saja dia lupa.
A : Hm.... ?#@$%

      Gimana? Semoga bisa paham dari cerita diatas. Entah kenapa, fenomena ini sering disalahpahami ketika berinteraksi. Terutama ketika menggunakan sudut pandang khusnudzhon yang berbeda.
Bagi yang tetap datang,
1    1. Berkhusnudzhon undangannya kemungkinan ada tapi tidak sampai.
2    2. Berkhusnudzhon yang punya hajat lupa, sehingga dengan mendapat info merasa itu sudah cukup.
Bagi yang berprinsip tidak datang (termasuk saya), berkhusnudzhon kalau memang undangannya terbatas, sehingga memang sengaja tidak diundang. Meskipun begitu, do’a kebaikan tetap diberikan.
            Dalam hal ini, saya belum tahu apakah di suku ras lain memiliki prinsip yang berbeda dengan prinsipnya kami, orang Minang. Karena pada realitasnya kadang menimbulkan keheranan. Sehingga muncul pernyataan “Kok segitunya sih masalah undangan, dll”. Tinggal kita bisa menempatkan diri dalam memahami kondisi ini di keseharian kita. Dan semua itu dikembalikan ke petunjuk terbaik, Al Qur’an dan As Sunnah. 
Jadi, apabila rekan-rekan akan punya hajatan, Jangan lupa undang ya. Baik secara resmi undangan atau pun lisan mengundang. Apalagi makna lisan hari ini bisa terganti dengan komunikasi pribadi via telpon, chat social media, dll. Apabila jaraknya jauh, lebih afdhol lagi dilengkapi tiket berangkat ke lokasi.

Yk.23.1.2016


Akhdan Mumtaz

Posted on Saturday, January 23, 2016 by Idriwal Mayusda

No comments

Wednesday, December 30, 2015

Hm... Entah kenapa tetiba ada keinginan untuk menulis tema ini. Mungkin sebagai penawar kerinduan ke daerah asal. Disamping tulisan ini niatnya menjadi rintisan awal untuk buku catatan perjalanan hidup. 

Kurai Taji, terkenal dengan sebutan Pakan Sinayan bahkan dirangkai menjadi satu kalimat Kurai Taji Pakan Sinayan. Tidak lain karena daerah ini punya jadwal pasar hari Senin (Sinayan). Dimana para pedagang pasar dari berbagai daerah terutama daerah darek datang ke Kurai Taji untuk berjualan hanya pada jadwal hari Senin. Dari penjual sayuran, baju, sandal, sepatu, lauk pauk, sampai tukang obat dengan atraksinya akan tumpah ruah pada hari Senin. Hari lain? Para pedagang itu akan pindah ke daerah lain yang punya Pasar Selasa, Rabu, Kamis, dst. Akan tetapi, aktivitas pasar Kurai Taji tetap akan hidup dengan para pedagang lokal Kurai Taji.

Kurai Taji, pernah menjadi stasiun perhentian terakhir jalur kereta api menuju Pariaman. Sehingga hal ini menjadikannya wilayah pasar yang strategis dengan sektor jasa yang tinggi. Hal yang khas tentunya banyaknya warung makanan. Bahkan Kurai Taji punya “Los Lambung”, yang sesuai namanya ini ada adalah sentra kumpulan los-los (toko-toko) makanan dan minuman pemuas lambung. Dari sate, soto, ketupat, teh telor, teh soda, kopi, dan berbagai macam pilihan lainnya. Waktu paling ramai adalah saat malam ketika para pelanggan ingin menikmatinya sambil ngobrol hingga larut malam. Bahkan diakhir pekan tidak sedikit yang menyelingi obrolan larut malam di los lambung dengan dentakan domino diatas meja. “ ‘Las Vegas’-nya Pariaman”, kata orang.

Kurai Taji, kalau kalian kesini jangan pernah pergi sebelum mencicipi makanan khas daerah ini, Katupek Gulai Paku. Gulai Paku? Jangan kaget dulu, yang dimaksud paku tidak lain adalah tanaman pakis haji yang memang termasuk jenis tanaman paku-pakuan. Makanan khas Kurai Taji ini sangat pantas untuk dicoba sebagai bagian dari kekayaan kuliner Minangkabau. Belum lagi saat menyantap Katupek Gulai Paku ditambah dengan Sala Bulek. Dijamin enak dan tak terlupakan. Kombinasi makanan khas yang pas.

Kurai Taji, daerah di pesisir barat pantai Sumatera ini mungkin pernah punya satu catatan dalam kesusasteraan Indonesia. Yakni pernah tertulis sebagai latar dalam sebuah novel tahun 1979, seandainya novel itu masih ada dan tercetak, karena hingga hari ini pun saya belum menemukan novel lengkapnya. Novel tersebut berjudul Warisan. Novel yang menggambarkan bagaimana Kurai Taji dengan stasiun kereta apinya, los lambungnya, ketupat gulai pakisnya serta kultur masyarakatnya.

Namun, dibalik semua cerita itu Kurai Taji juga punya cerita tentang pergerakan Islam. Setelah persarikatan Muhammadiyah didirikan KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Kurai Taji merupakan daerah tempat pertama kali Muhammadiyah didirikan di Sumatera Barat. Hal ini menjadikan Kurai Taji identik dengan Muhammadiyah. Masyarakat Kurai Taji adalah masyarakat Muhammadiyah. Didaerah ini berdiri Masjid Sejarah Muhammadiyah yang juga dikenal dengan Surau Dagang. Konon gelar Surau Dagang diberikan karena masjid ini menjadi tempat sholat para pedagang-pedagang pasar Senin. Dan dakwah Muhammadiyah bisa tersebar dengan jama’ah-jama’ah pedagang pasar Senin yang berasal dari berbagai daerah ini.

Di Kurai Taji juga berdiri berbagai amal usaha Muhammadiyah. Diantaranya adalah Panti Asuhan Yatim dan sekolah-sekolah Muhammadiyah, yakni Taman Kanak-kanak Aisyiah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Diniyah. Saya pernah menjalani pendidikan di Taman Kanak-kanak Aisyiah selama 2 tahun. Bahkan saat sekolah dasar pun, sepulang sekolah masih menjadi siswa di Madrasah Diniyah Muhammadiyah selama lima tahun. Karena MDA di Muhammadiyah sudah ibarat mengikuti TPA di Kurai Taji bagi anak-anak usia sekolah dasar. Disamping saya juga pernah menjadi pesilat di perguruan Tapak Suci Muhammadiyah meski hingga kini belum memiliki kesempatan lagi untuk menyelesaikannya.


Yk.11.11.15
8.39

Posted on Wednesday, December 30, 2015 by Idriwal Mayusda

No comments

Wednesday, December 23, 2015

“Pada zaman Rasulullah, Abu Bakar, Umar bin Khatb, Utsman bin ‘Affan yang menjadi rakyatnya adalah aku. Sedangkan pada zaman aku menjadi pemimpinnya, yang menjadi rakyatnya adalah kamu”, jawab Ali bin Abi Thalib terhadap protes salah seorang rakyatnya tentang keberbedaan kondisi pada masa Ali dengan masa-masa sebelumnya. Jawaban ini bukan berarti menyebabkan Ali bin Abi Thalib tidak bermujahadah untuk menyiapkan generasi yang lebih baik. Beliau tetap melanjutkan pendidikan-pendidikan melalui madrasah-madrasah yang sudah dirintis dari fase-fase sebelumnya. Akan tetapi, mungkin ikhtiar dan kesungguhan beliau untuk generasi yang lebih baik mungkin tak sampai maksud untuk diterima dengan baik oleh generasi sesudahnya.

Kaderisasi memang suatu hal yang unik. Dia menjadi jantungnya sebuah organisasi dan pergerakan. Dia adalah proses yang tidak hanya mewariskan orang tapi juga mengikutkan pewarisan nilai. Proses ini tidak hanya bicara tentang siapa tapi juga bagaimana siapa-siapa itu melanjutkan.

Kaderisasi ibarat orang tua yang dengan kecintaannya bercita-cita agar anak-anaknya harus lebih baik dari dirinya. Akan tetapi, fakta ini menjadi sebuah paradoks di dunia kampus hari ini. Paradoks kasih tak sampai. Dimana sebuah generasi akan berusaha memberikan sesuatu yang terbaik dan lebih baik kepada generasi penggantinya. Namun, ternyata dipahami sebagai sesuatu yang sebaliknya oleh generasi pengganti. Bahkan kecenderungan hari ini yang hadir justru semangat “menyalahkan” generasi sebelumnya. “Kondisi hari ini mungkin tidak akan seperti ini apabila generasi kemaren tidak memberikan hal ini kepada kita”, menjadi ungkapan yang sering muncul. Akan semakin miris ketika generasi sebelumnya menjawab, “Padahal kami berusaha memberikan hal terbaik agar kalian lebih baik dari kami”. Sungguh paradoks.

Dialog antar generasi mungkin menjadi penting agar kasih itu sampai. Generasi sebelumnya mungkin butuh untuk mengekspresikan bagaimana kasihnya mereka kepada generasi sesudahnya. Tentang apa asa mereka, apa mimpi mereka, apa hal yang melatarbelakangi setiap keputusan mereka. Sebagaimana orang tua menyampaikan kasih sayangnya mereka kepada anak-anaknya. Sehingga curahan kasih itu sampai. Tapi sadarkah kita bahwa kasih orang tua pun kadang tersampaikan tanpa ungkapan lisan. Salah satunya adalah dengan memberikan kepercayaan. 

Syaikh Mushtafa Masyhur pernah menulis pembahasan khusus tentang kesinambungan antar generasi untuk mencapai tujuan dakwah. Dalam hal ini beliau menyatakan banyak hal, yang diantaranya saya kutipkan bahwa, 
  • Pewarisan secara teori tidak akan terealisasi hanya melalui buku-buku atau risalah-risalah, akan tetapi haruslah dengan hidup bersama dan melebur antara tiap generasi sebelum dan sesudahnya. 
  • Dengan menyatu dan meleburnya semangat didalam jiwa maka setiap generasi yang sebelumnya akan lebih mengenal karakter dan rambu-rambu jalan dakwah sehingga mengetahui tujuan utama, tujuan jangka pendek, mengenal sarana-sarana yang diperbolehkan serta mengenal kewajiban dan capaian-capaian yang mesti dilaksanakan.
  • Termasuk salah satu yang mesti diperhatikan adalah berusaha untuk membina kepercayaan antar generasi agar proses pewarisan dan pembauran generasi dapat berjalan sesempurna mungkin.
  • Termasuk hal yang paling penting dalam pewarisan dakwah adalah sisi spiritual dan bekal dijalan dakwah sebagai hal yang harus meningkat karena menjadi jaminan atas selamatnya perjalanan dakwah.


Berdasarkan hal ini saya memahami, termasuk pernah menjalani tentang pentingnya dialog antar generasi ini. Dialog yang didefinisikan Syaikh Mushtafa Masyhur sebagai hidup bersama dan melebur antar generasi. Sehingga tanggungjawab yang dilanjutkan generasi selanjutnya adalah sesuatu yang sesungguhnya dituai dari apa yang sebelumnya mereka jalani. Karena tiap generasi itu pernah bersama menanggung tanggungjawab tersebut. Yang dengannya generasi sebelumnya bisa dengan ikhlas, percaya dan penuh kelapangan dada mewariskan perjuangan kepada generasi selanjutnya. Mewariskan sehingga kasih itu sampai.


Yk.19.11.2015

~akhdan mumtaz

Posted on Wednesday, December 23, 2015 by Idriwal Mayusda

No comments

Monday, December 21, 2015

Identitas dan aksesoris adalah dua hal yang berbeda. Identitas, hal yang melekat pada diri seseorang. Sedangkan aksesoris merupakan “perhiasan” dari identitas diri itu sendiri. Yang mungkin untuk berganti sesuai perubahan kehendak dan suasana hati. Maka dengan ketidaksamaan dua hal tersebut, tentu menjadi berbeda nilai antara keduanya. 

Beberapa waktu yang lalu saya terhentak dengan sebuah pernyataan, “Sebuah pilihan hidup. Dia akhirnya melepas aksesoris Kemuslimahannya”. Kenapa saya terhentak? Pertama, karena saya memahami maksud dari kata aksesoris kemuslimahan dalam pernyataan itu tidak lain adalah Hijab. Hijab yang sebagaimana diperintahkan Allah Swt dalam firmannya,
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,........” (QS An Nur 24:31)
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”... (QS Al Ahzab 33 : 59)

Kedua, saya pun memahami bahwa yang dimaksud dengan melepas aksesoris pun bukan berarti melepas hijab secara total. Melainkan melepas penggunaan hijab secara utuh sesuai dengan firman Allah Swt. Hanya saja menjadi terhentak dengan frase “aksesoris Kemuslimahan“ karena bisa jadi kita pun menempatkan pemahaman kita tentang perintah Allah Swt seperti itu. Bahwa perintah Allah itu adalah aksesoris yang bisa sewaktu-waktu kita lepaskan.
Hal ini tentu sangat berbeda dengan firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan,...” (QS Al Baqarah 2:208)

Dimana Allah memanggil kita sebagai insan beriman untuk “mengutuhkan” Islam pada diri kita. Utuh sebagaimana makna dari kata “kaffah”. Akan tetapi, memang ada kata “iman” yang mendahului panggilan Allah Swt ini. Sehingga variabel iman tentu sangat mempengaruhi semangat mengutuhkan Islam kita itu.

Maka, sungguh kita patut khawatir. Jangan-jangan makna lain dari “melepaskan aksesoris Kemuslim(ah)an” itu melepaskan Keimananan dari diri kita. Na’udzubillahi min dzalik. Tentu kita berharap tidak seperti itu.  

Posted on Monday, December 21, 2015 by Idriwal Mayusda

No comments

Sunday, April 12, 2015

“Kenapa nama orang Padang itu aneh-aneh dan anti mainstream?”,

tetiba ada pertanyaan itu dari seorang teman. Sesaat saya juga berpikir terkait pertanyaan tersebut, kadang hanya bilang “Konon justru itulah ciri khas orang Minang”. Maklum setiap perkenalan nama, setiap ada nama yang sepertinya berbeda, unik, dan anti mainstream, banyak yang akan langsung menyimpulkan, “asalnya dari Padang ya?” Mungkin nama yang paling tidak menggambarkan suku di Indonesia itulah nama-nama orang Minang.

Oya, sejatinya tidak ada nama suku bangsa Padang di Indonesia sebagaimana yang sering dipergunakan di percakapan umum Indonesia. Adanya adalah suku Minangkabau. Mungkin penyebab penggunaan umum, “Kamu orang Padang ya?” dikarenakan mendunianya Rumah Makan Padang. Sehingga orang umum memahami yang namanya orang Minang itu ya orang Padang. Padahal banyak rumah makan yang berlabel Rumah Makan Padang tapi asalnya sendiri bukan dari Padang. Melainkan dari daerah-daerah seperti Solok, Payakumbuah, Bukittinggi, dll.  Perbedaan orang yang telah paham tentang hal ini biasanya diikuti dengan pertanyaan, “Padangnya mana?”.

Memang istilah suku pada masyarakat Minangkabau sedikit membingungkan bagi orang luar Minangkabau. Karena di budaya Minang, suku merupakan sub-klan yang diturunkan dari garis ibu sebagaimana marga pada suku Batak, Ambon, Toraja, Minahasa. Sehingga suku orang Minang itu ada Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, dll. Perbedaannya orang Minang cenderung tidak menggunakan nama belakang suku tersebut sebagaimana suku Batak. Konon katanya karena memakai nama suku atau marga akan menghilangkan identitas Minangnya. Sehingga sangat jarang meskipun ada, yang menggunakan penamaan dengan nama belakang suku.

Kembali ke pembahasan terkait nama orang Minang yang unik dan anti main stream katanya. Ternyata ada satu artikel khusus di Wikipedia yang membahas ini (jujur, saya ja kaget pas iseng googling ternyata ada pembahasannya).

Masa Awal

Setidaknya memang ada faktor historis, psikologis dan sosiologis dalam bagaimana orang Minang memberikan penamaan kepada putra-putrinya. Dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie disebutkan, nama-nama orang Minang pada masa-masa awal berasal dari alam dan nama-nama benda yang ada di dalamnya. Hal ini tidak lain karena falsafah hidup orang Minangkabau dimana “Alam Takambang Jadi Guru”. Sebagaimana banyak nama kampung, daerah-daerah baru, dan nama-nama suku dengan falsafah ini, termasuk dalam memberikan gelar atau nama kepada seseorang.

Dalam waktu yang cukup lama, tak sedikit pula nama-nama berbau Hindu dan Buddha bermunculan. Setelah Islam masuk dan berkembang, nama-nama Arab sebagai nama-nama orang Minang. Nama para Nabi dan Rasul serta para sahabat , atau istri dan anak-anaknya, adalah nama-nama yang paling sering digunakan.

Memasuki pertengahan abad ke-20, muncul nama keJawa-jawaan, singkatan, dan pengkodean. Pada masa Orde Baru, muncul pula nama-nama yang berbau kebarat-baratan. Baru pada dua dekade terakhir, nama-nama orang Minang kembali diramaikan dengan nama-nama Islam, yang didasarkan atas motivasi pemberi nama itu sendiri.

Disamping itu, tak sedikit orang Minang yang gemar memakai imbuhan atau akhiran tertentu dalam memberikan nama, seperti –zal untuk laki-laki atau -niar untuk perempuan. Nama-nama yang mengandung atau berakhiran -rizal bahkan sering diasosiasikan sebagai nama khas Minang.

Pasca PRRI

Insiden PRRI kurang lebih sangat berpengaruh terhadap pemberian nama orang Minang. Sama seperti yang terjadi kepada etnis Tionghoa di Indonesia pada masa represif yang berdampkan bahwa mereka harus memiliki nama Indonesia. Insiden PRRI memberi dampak tekanan dan intimidasi dari pemerintahan pusat pada akhir tahun 1960-an sebagai konsekuensi penumpasan gerakan separatis. Hal menyebabkan banyak masyarakat Minangkabau yang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya, termasuk lewat perubahan nama. Mereka berusaha untuk mencari identitas baru agar lepas dari kejaran tentara pusat. Dengan menjawa-jawakan diri seperti yang diinginkan oleh pusat, tak sedikit orang Minang mengganti nama mereka dengan nama ke-Jawa-jawaan, atau nama-nama berbau Eropa, Persia, dan Amerika Latin. Akan tetapi, nama-nama yang mereka berikan punya makna tersendiri; ada kreasi yang mereka ciptakan di dalamnya.

Nama-nama Jawa pada masyarakat Minangkabau biasanya merupakan singkatan daerah asal orang tua, nama kedua orang tua, atau kombinasi keduanya. Nama-nama ini lekat pasca-PRRI, seperti ‘Parmanto’ (singkatan dari daerah asal pemilik nama, Parikmalintang dan Toboh), ‘Surianto’ (Surian dan Koto), dan lain sebagainya. Namun, ada sebagian orang tua yang mengadopsi nama Jawa secara utuh, atau sekadar menyamarkan nama Minang mereka. Bastian Sutan Ameh misalnya, yang mengganti namanya menjadi ‘Sebastian Tanamas’ ketika merantau ke Jakarta.

"Itu memang strategi untuk tetap bertahan" karena jika tidak, mereka akan tetap dicari oleh tentara pusat, untuk dibunuh. Selain itu, bagi mereka yang merantau ke Jawa, mereka lebih mudah diterima, menurut guru besar dan sejarawan Universitas Andala, Gusti Asnan. Tidak ada gerakan yang disengaja dalam masyarakat Minangkabau untuk mengganti nama mereka dengan nama-nama Jawa pada masa itu, ungkap beliau.

Penutup

“Nama adalah do’a”, sebagaimana yang selalu kita pahami. Begitu pun sejatinya hal yang menjadi pertimbangan dalam memilihkan nama. Meskipun terkadang aspek kultural dan psikologis bisa sangat berpengaruh dalam hal ini. Apalagi untuk nama orang Minang yang katanya unik, aneh ataukah anti mainstream. Tidak lain karena nama terkadang juga menjadi keterangan secara lengkap dari seorang anak. Bisa merangkum nama kedua orang tua, waktu lahir, dll. Sebagaimana nama yang orang tua pilihkan dan takdirkan untuk saya sendiri. Hal pokoknya adalah nama itu menjadi do’a yang baik dari kedua orang tua. Baik dengan kaidah bahasa yang ada maupun menjadi referensi ketauladanan, dll.


Yk.12.4.2015
Menjelang waktu Dzuhur di Andalusia



Idzkhir al-Mu’adz

Posted on Sunday, April 12, 2015 by Idriwal Mayusda

No comments